Delapan Tahun Berlalu...
Wednesday, February 16, 2005
Masih ingat ia rasanya bagaimana suasana hati di malam 15 Februari delapan tahun lalu. Jantung berdegup kencang. Bukan hanya karena ia menunggu hari istimewa dengan baju kurung keemasan, tapi juga sebab banyak pertanyaan yang melintas di pikiran:"bagaimana rasanya menjadi istri, yang suaminya ridhoi? apa yang harus diperbuat agar tak mengecewakan dirinya dan Robbnya? seperti apa selalu hidup bersama dengannya? dapatkah jatuh cinta selalu dirasa? Bagaimanakah mencintai dirinya karena Dia?...etc, usw, ecc, dll".
beribu pertanyaan melelahkan yang malah membuat dirinya tertidur lelap di kamar tidur sederhana yang tak dihiasi apapun kecuali beberapa tangkai mawar merah. Kamar berdinding warna krem muda yang akan jadi kamar mereka berdua setelah waktu dhuha keesokan hari.
Di pagi 16 Februari 1997, tepat kala jam kuno ayahnya berdenting sembilan kali, mereka menjalin janji, ikatan dan harapan: membentuk keluarga mawaddah sakinah yang semoga Robbnya ridhoi. Di saksikan oleh dua ayah dan dua bunda yang kini mereka miliki, sanak kerabat dan Sang Khalik, bersentuhanlah dua tangan mereka untuk pertama kali. Air mata menghias, tatkala sang suami menyematkan cincin sederhana di jari manisnya dan menghadiahkan kecupan manis di keningnya. Butiran bening itupun belum pula hilang kala ia bersimpuh pada ayah dan bundanya. Kini ia menyadari bahwa hidup satu atap bersama ayah dan bunda tak kan lama lagi dapat dinikmati, betapa sedih pilu di hati.
Enam minggu setelah tanggal itu, ia selalu bersama dengan suaminya. Menikmati waktu sebisa mungkin bersama, walau kadang harus terganggu urusan mengejar sks dua semester yang harus dipadatkan karena urusan yang telah lewat. Makan bersama, jalan bersama, sholat bersama, ah...betapa indah dan lucunya :). Sayang kebersamaan itu harus sementara berakhir. Ia harus menjalani konsekuensi karena harapannya sendiri, lulus tepat waktu dalam studi. Dengan menahan air mata, ia lepaskan kekasih hatinya di jendela kaca bandara. Ia yakin, perpisahan ini adalah satu kesementaraan. Satu saat bila Dia menghendaki, insya allah mereka akan kembali bersama lagi.
Delapan bulan setelah air matanya tak kunjung habis di perjalanan pulang dari bandara, ia kembali akan bertemu suaminya di lapangan terbang nun jauh di sana. Berjalan sendiri tuk sekian saat di tempat di mana orang berbicara dengan bahasa yang tak di kenalnya. Detik itupun tiba, tatkala ia dapat kembali mengenggam erat hangat tangan suaminya. Kembali bernostalgia dengan cerita lalu dan mulai menjalin harapan dan impian berperahu pernikahan di laut kehidupan.
20 September 1998 tiba...15 August 2001 datang...03 September 2003 menghampiri. Kini delapan tahun ia telah menjalin ikatan suci. Delapan tahun yang rasanya baru kemarin saja di jalani. Di tiap pertambahan usia pernikahannya, ia makin mengerti dan mengerti jawaban atas pertanyaan pertanyaannya di kamar krem muda dahulu. Walau tetap tak dapat ia tuangkan dalam rangkaian kata kata. Salah satu dari sedikit jawaban tertulis, mungkin dapat sedikit terwakili dari alunan merdu Nat King Cole dalam lagu ini. Lagu yang tetap menjadi lagu bersama mereka sejak pertama kali hati mereka terpaut, hingga saat ini di delapan tahun usia cabe rawit pernikahan mereka.
When I fall in love it will be forever
Or I'll never fall in love
In a restless world like this is
Love is ended before it's begun
And too many moonlight kisses
Seem to cool in the warmth of the sun
When I give my heart it will be completely
Or I'll never give my heart
And the moment I can feel that you feel that way too
Is when I fall in love with you.
Ya, ia masih saja jatuh cinta padanya. Tak hanya cinta, bahkan sayang pun makin saja bersemi.
Semoga..., jatuh cinta yang ia miliki pun tak lain untuk mengharapkan kecintaan dari Dia.
Semoga..., cinta dan sayang itu selalu kuncup dan berbunga di kehidupan pernikahan mereka sepanjang masa.
Semoga..., Ridho dariNya selalu menyelimuti perahu kebersamaan mereka berdua.
Semoga..., Dia selalu melindungi biduk pernikahan mereka dari gulungan ombak besar dan badai dahsyat, tatkala mereka mengarungi samudra kehidupan nan bermisteri penuh tanda tanya. Amin.
*Foto von Corbis
Semoga..., jatuh cinta yang ia miliki pun tak lain untuk mengharapkan kecintaan dari Dia.
Semoga..., cinta dan sayang itu selalu kuncup dan berbunga di kehidupan pernikahan mereka sepanjang masa.
Semoga..., Ridho dariNya selalu menyelimuti perahu kebersamaan mereka berdua.
Semoga..., Dia selalu melindungi biduk pernikahan mereka dari gulungan ombak besar dan badai dahsyat, tatkala mereka mengarungi samudra kehidupan nan bermisteri penuh tanda tanya. Amin.
*Foto von Corbis
*)My Page





