My Time With Sheila (II)
Tuesday, January 18, 2005
Hilangnya kabar Sheila harus kembali Torey alami. Kesedihan melanda Torey karena ia pun harus menyiapkan diri berhadapan dengan realita: menerima hilangnya Sheila dari kehidupannya. Frustasi yang Torey hadapi ia lawan dengan kesibukan harian di Sandry Clinic, walau toh tetap ia simpan secercah harapan: satu saat..semoga Sheila memberi kabar padanya.
"Geh fort, geh fort, o Menschenkind. Wo Wasser und die Wildnis sind. Mit einer Fee geh Hand, denn sind mehr Traenen auf der Welt, als einer fassen kann. Fuer manche von uns ist diese Welt nicht gemacht Torey. Der kleine Prinz hat es erfahren. Und Kleopatra, und ich glaube, ich auch. Hier gibt es nichts fuer Mich. Ich komme von einem anderen Ort. Ich gehoere nicht hierher. Sind mehr Tränen auf der Welt, als ich fassen kann. Danke, dass du's versucht hast. Und fax mir nicht zurueck. Ich schicke das von einem Geschaeft aus und will keine Antwort. In Liebe, Sheila.". Sebuah Fax mengagetkan Torey akan keberadaan Sheila di suatu kota di Kalifornia Utara. Ya, Kalifornia, tempat yang selalu Sheila sangka di sanalah ibu dan Jimmie- nya berada. Setelah dapat berbicara dengan Sheila yang tetap tak mau ditolong olehnya, Torey memohon pada Sheila agar berkenan menunggu di satu tempat hingga ia datang menemui.
Perjalanan 2 jam dengan pesawat ditambah 2 jam dengan mobil sewaan rela Torey tempuh demi menemui Sheila yang sedang kebingungan. Tepat jam 10 malam di restaurant siap saji Mc Donald nun di satu tempat di Kalifornia utara, Torey melihat seorang gadis lusuh dengan pakaian yang kotor dan tampak kelaparan: ya, Sheila-nya sedang duduk termenung di satu meja. "Ich will nicht in das Heim zurueck Torey. Wennn du nur hergekommen bist, um mich wieder dahin zu bringen, haettest du auch gleich zu Hause bleiben koennen. Ich geh' da nicht wieder hin. Da sitzt man wie in der Todeszelle, und das ist fuer mich erledigt!" jawab Sheila saat Torey mengajaknya untuk menaiki mobil. Namun Torey begitu sabar menjalin pembicaraan hingga akhirnya Sheila menyerah pasrah naik ke mobil sewaan, berduaan dengan Torey menempuh perjalanan malam melalui Highway ke arah utara.
Di perjalanan menyusuri Highway yang gelap gulita, Sheila seakan lepas menuangkan emosi kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya. "Why did you do that Torey? Why did you extra come here to take me?" "Because I love you. That's only". Sheila menangis terisak isak. "It's not fair. It's so wrong. You have not supposed to be here. My mother should come here and talk with me. Not you, only my teacher." Sheila menoleh pada Torey. "So sorry Torey for what I say. But that's what you are. Where are the people, who I should love? Where are they now?" Where is my mother? and where is my father? Why should always people like you, who take care of me? Why not my parents? Am I too bad for them? ". Torey tak menjawabnya, karena memang ada waktu dimana kata kata tak dapat membantu luka kepedihan yang sedang dirasa.
Setelah Sheila selesai melepaskan luapan emosinya, baru Torey mengajaknya berpikir lebih jauh dan melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Percakapan yang dalam dan panjang, mereka alami hingga ke kota tempat tinggal mereka berdua. Keesokan harinya, setelah Sheila terbangun dari tidur pulas di lantai kamar Torey, ia berkata: " Ich glaube, dass ich inzwischen den ersten Punkt erreicht hab'. Ich hab' hier gesessen und nachgedacht, und du, ich hab' jetzt nicht mehr das Gefuehl, dass es meine Schuld war. Es tut immer noch hoellisch weh. Ich wuensch' mir immer noch es waere nicht geschehen. Ich kann jetzt verstehen, dass meine Mutter vielleicht ihre eigenen Probleme hatte und es nur mein Pech war, dass ich eins davon war". Sheila melanjutkan bicaranya pada Torey "am meisten hab' ich ueber das nachgedacht, was du ueber das Loslassen gesagt hast. Annehmen, Verzeihen und dann Loslassen. Annehmen kann ich, glaube ich. Ich glaube, ich kann sogar verzeihen, aber dan Loslassen macht mir zu schaffen. Ich versuche dahinterzukommen, was zum Loslassen gehoert, und das einzige, was mir einfaellt, ist, dass man nach vorne schauen muss. Man muss mehr and die Zukunft denken als and die Vergangenheit".
"Geh fort, geh fort, o Menschenkind. Wo Wasser und die Wildnis sind. Mit einer Fee geh Hand, denn sind mehr Traenen auf der Welt, als einer fassen kann. Fuer manche von uns ist diese Welt nicht gemacht Torey. Der kleine Prinz hat es erfahren. Und Kleopatra, und ich glaube, ich auch. Hier gibt es nichts fuer Mich. Ich komme von einem anderen Ort. Ich gehoere nicht hierher. Sind mehr Tränen auf der Welt, als ich fassen kann. Danke, dass du's versucht hast. Und fax mir nicht zurueck. Ich schicke das von einem Geschaeft aus und will keine Antwort. In Liebe, Sheila.". Sebuah Fax mengagetkan Torey akan keberadaan Sheila di suatu kota di Kalifornia Utara. Ya, Kalifornia, tempat yang selalu Sheila sangka di sanalah ibu dan Jimmie- nya berada. Setelah dapat berbicara dengan Sheila yang tetap tak mau ditolong olehnya, Torey memohon pada Sheila agar berkenan menunggu di satu tempat hingga ia datang menemui.
Perjalanan 2 jam dengan pesawat ditambah 2 jam dengan mobil sewaan rela Torey tempuh demi menemui Sheila yang sedang kebingungan. Tepat jam 10 malam di restaurant siap saji Mc Donald nun di satu tempat di Kalifornia utara, Torey melihat seorang gadis lusuh dengan pakaian yang kotor dan tampak kelaparan: ya, Sheila-nya sedang duduk termenung di satu meja. "Ich will nicht in das Heim zurueck Torey. Wennn du nur hergekommen bist, um mich wieder dahin zu bringen, haettest du auch gleich zu Hause bleiben koennen. Ich geh' da nicht wieder hin. Da sitzt man wie in der Todeszelle, und das ist fuer mich erledigt!" jawab Sheila saat Torey mengajaknya untuk menaiki mobil. Namun Torey begitu sabar menjalin pembicaraan hingga akhirnya Sheila menyerah pasrah naik ke mobil sewaan, berduaan dengan Torey menempuh perjalanan malam melalui Highway ke arah utara.
Di perjalanan menyusuri Highway yang gelap gulita, Sheila seakan lepas menuangkan emosi kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya. "Why did you do that Torey? Why did you extra come here to take me?" "Because I love you. That's only". Sheila menangis terisak isak. "It's not fair. It's so wrong. You have not supposed to be here. My mother should come here and talk with me. Not you, only my teacher." Sheila menoleh pada Torey. "So sorry Torey for what I say. But that's what you are. Where are the people, who I should love? Where are they now?" Where is my mother? and where is my father? Why should always people like you, who take care of me? Why not my parents? Am I too bad for them? ". Torey tak menjawabnya, karena memang ada waktu dimana kata kata tak dapat membantu luka kepedihan yang sedang dirasa.
Setelah Sheila selesai melepaskan luapan emosinya, baru Torey mengajaknya berpikir lebih jauh dan melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Percakapan yang dalam dan panjang, mereka alami hingga ke kota tempat tinggal mereka berdua. Keesokan harinya, setelah Sheila terbangun dari tidur pulas di lantai kamar Torey, ia berkata: " Ich glaube, dass ich inzwischen den ersten Punkt erreicht hab'. Ich hab' hier gesessen und nachgedacht, und du, ich hab' jetzt nicht mehr das Gefuehl, dass es meine Schuld war. Es tut immer noch hoellisch weh. Ich wuensch' mir immer noch es waere nicht geschehen. Ich kann jetzt verstehen, dass meine Mutter vielleicht ihre eigenen Probleme hatte und es nur mein Pech war, dass ich eins davon war". Sheila melanjutkan bicaranya pada Torey "am meisten hab' ich ueber das nachgedacht, was du ueber das Loslassen gesagt hast. Annehmen, Verzeihen und dann Loslassen. Annehmen kann ich, glaube ich. Ich glaube, ich kann sogar verzeihen, aber dan Loslassen macht mir zu schaffen. Ich versuche dahinterzukommen, was zum Loslassen gehoert, und das einzige, was mir einfaellt, ist, dass man nach vorne schauen muss. Man muss mehr and die Zukunft denken als and die Vergangenheit".
Dengan kemampuan intelektual kategori jenius, Sheila tetap bersikeras tidak melanjutkan pendidikan ke Universitas, namun ia memilih berkarir di Mc Donalds .Torey pun menghargai keputusannya walau tetap ada sedikit kecewa karena kemampuan intelegensi Sheila tak dapat optimal di gunakan di universitas "Ein hochintelligentes Maedchen wie du! und di willst dir dein Leben damit verdienen, dass du Hamburger austeilst?" "Hoer zu Mama, ich muss das Tun, was ich fuer richtig halte" "Ich bin nicht deine Mutter. Meinem Kind wuerde ich so was niemals durchgehen lassen" Torey tertawa. "Doch du bist meine Mutter. Wenn ueberhaupt jemand meine Mutter ist, dann bist du's, weil ich dich genauso liebe wie eine Mutter. Und ich weiss, dass du mich auch liebst". "Ok good. Do what you think right. I do trust you" "Thank you, Mama" demikian Torey menutup buku Tiger's Child ini.
Kisah menarik yang menyentuh jiwa, saya dapatkan kembali ketika membaca karya Torey ini. Emosi saya pun terpengaruh mengikuti turun naiknya emosi Sheila dan Torey dalam Tiger's Child. Kadang saya tak habis pikir, ternyata masih saja ada orang sebaik Torey yang menyayangi anak bimbingnya dari hati yang terdalam dan rela berkorban waktu, tenaga bahkan materi di zaman di mana dunia dipenuhi nilai nilai kapitalis dan materialis. Apakah saya juga dapat berlaku demikian?.
Selebihnya, saya amat terkesan dari beberapa untaian kalimat Sheila dalam buku ini yang membuat nurani saya tersentuh: Accept, Forgiving and then Releasing....We must look forward and we've to think more at the future than a past. Mungkin benar, kejadian masa lalu yang pahit terutama yang melukai hati serta kadang tak kita mengerti mengapa harus terjadi akan lebih baik bila kita menerimanya. Menerima bahwa itu telah terjadi dan tak akan bisa dirubah lagi. Akan lebih baik lagi bila kita memaafkan penyebab kepahitan tersebut dan berusaha untuk ikhlash melepaskan masa lalu yang menyakitkan. Hati memang berubah ubah, namun dengan selalu berkomitmen melakukan ketiga hal di atas, rasanya akan lebih mudah bagi kita untuk menjalani masa depan. Masa lalu biarlah kita jadikan kenangan dan pengalaman hidup yang berharga, namun janganlah menjadi penjara bagi kita untuk tidak lebih banyak memikirkan masa yang akan datang. Benarlah kiranya nasihat bijak yang sering saya dapati...adalah manusia merugi, bila saat ini tak lebih baik dari masa lalu, dan bila masa depan tak lebih baik dari hari ini.
Satu lagi yang membuat saya berkaca diri..mungkinkah kiranya di satu saat nanti buah hati saya dapat berbangga hati memiliki saya sebagai ibunya. Dapatkah satu saat mereka berkata pula pada saya, yang ibu kandungnya " You're my ummi....I do love you Ummi, and I'm sure that you do love me too" . Ah, semoga...
*Sheila is now in her thirties. She has moved from fast food into the restaurant business and seems to have quite an astute business mind. She remains single and shares her home with two cats and two dogs. Animal rights has become an important cause in her life and she devotes a considerable amount of free time to this work.
*)My Page





