My Time With Sheila (I)
Tuesday, January 18, 2005
Kisah sedih Sheila, seorang gadis cilik yang tak mau bicara , telah membuat pembacanya yang ada di 22 negara turut hanyut dalam kesedihan sang gadis kecil. Bahkan buku Sheila yang Torey tulis, membuat dirinya terkenal sebagai therapis spesial untuk kasus kasus mutismus (tak mau berbicara). Lima bulan penuh Torey berjuang untuk membebaskan Sheila dari penjara kebisuan dan keagresifan yang mengkungkungnya. Lima bulan panjang bagi Torey dan Sheila, yang berakhir dengan manis. Setelahnya, mereka berdua menapaki jalan kehidupan yang berbeda: Torey kembali menekuni pekerjaannya di kota lain, Sheila pun nampak menjalani kehidupan "normal" nya di kelas reguler dengan membawa kenangan manis bersama Torey membaca buku "kleine Prinz" yang ada selalu di benaknya.
Tujuh tahun kemudian, Torey mulai menulis pengalaman selama berinteraksi dengan Sheila setelah ia termotivasi oleh catatan kecil mahasiswinya yang dituliskan dalam sebuah buku yang ia hadiahkan pada Torey: "Fuer Torey, in der Hoffnung, dass Sie eines Tages ueber Sheila, Leslie und alle die anderen schreiben werden".
Saat Torey telah selesai menuliskan pengalamannya bersama dengan Sheila kecil, maka secara tak sengaja ia memperoleh informasi bahwa Sheila bermukim di tempat yang tak begitu jauh dari Sandry Clinic, tempat Torey melakukan penelitian psikologinya. Torey kembali bertemu dengan Sheila. Namun penampakan gadis yang hampir berusia 14 tahun bernama Sheila itu amatlah jauh berbeda dari apa yang Torey ingat pada Sheila gadis kecil cantik berambut lurus yang memiliki IQ 180.
Sheila yang kurus, berambut kriting dengan warna oranye menyala dan sedikit bergaya ala punk, nampak tak mengingat masa masa yang ia lalui bersama Torey. Kenyataan bahwa Sheila melupakan masa kebersamaan dengannya dan seakan kasih serta usaha mengajarkan arti cinta pada Sheila kecil nampaknya tak membuahkan apa apa, sedikit banyak membuat Torey sedih dan kecewa. Namun Torey tak pantang menyerah, ia kembali menjalin relationship dengan sang remaja dan berusaha kembali mengenalkan arti sayang dan cinta pada Sheila.
Torey banyak mengikutsertakan Sheila dalam aktivitasnya, bahkan ia mengajak Sheila untuk bekerja sebagai asisten pada Summer Program bagi kelompok anak anak yang mengalami gangguan psikologi, yang selama ini diterapi di Sandry Clinic. Semakin intens Torey berinteraksi dengan Sheila, semakin Torey menyadari bahwa remaja 14 th yang kini ia hadapi memiliki masalah yang sama dengan Sheila kecil di 7 tahun yang lalu: dendam kesumat yang tak berkehabisan!.
Hasil komunikasi intensif dengan Torey pun berdampak pada Sheila. Semakin intens Sheila berinteraksi dengan Torey, semakin terkuak kembali gambar dan kenangan kenangan masa lalu yang harus Sheila alami. Kenangan kenangan pahit yang mengikuti jalan hidupnya seakan muncul dengan detailnya yang begitu jelas: saat ia harus memuaskan kebutuhan dealer obat bius yang akan menjual obat obatnya dengan harga yang murah pada ayahnya, saat ia diperkosa oleh pamannya, serta saat ia dipaksa keluar dari mobil oleh ibunya dan ditinggalkan begitu saja di tepi High Way kala berusia 4 tahun: berpisah dengan Jimmie kecil adik satu satunya. Kebencian, dendam, kerinduan dan rasa tak berharga menyelimuti sang remaja.
Pilu, sedih dan kecewa melihat kasih dan usahanya selama ini mengajarkan cinta kepada Sheila seolah tak berarti apa-apa, Torey tetap tak mau menyerah. Torey pun tetap menghadapi Sheila dengan sabar tatkala Sheila berdiri depan pintu rumahnya bersama Alejo, seorang anak yang mengikuti Sommer Program ,yang ia culik karena ketakutannya bila Alejo akan dikembalikan ke Kolombia oleh orang tua asuhnya. Torey memandikan Sheila dengan kasih dan menina bobo kannya di kamar pribadi Torey.
Torey pun tetap mencari kabar kala Sheila hilang begitu saja dari kehidupannya. Harapan agar satu saat Sheila kembali menghubungi dirinya selalu dipupuk Torey dalam sanubari. Hingga satu saat Torey mendapatkan setumpuk surat pribadi yang Sheila ditujukan padanya dan ibunya. Torey pun kembali berkunjung rutin pada Sheila yang harus tinggal di rumah penitipan anak anak selama ayahnya mendekam di penjara akibat tak mampu membayar tagihan sewa rumah di tempat tinggal lama mereka. Torey habiskan waktu satu kali seminggu bersama Sheila dengan melakukan aktivitas bersama ataupun hanya sekedar mendengar sang remaja membacakan sekelumit puisi dari buku Antonius and Cleopatra. Buku yang Sheila 10 kali baca dalam dua hari dan masih berulangkali ia selusuri kata katanya. (to be continued)
*)My Page





