<$BlogRSDUrl$>
*)My Page

Mengaburnya Garis Keturunan..

Thursday, November 18, 2004

Bila manusia berbuat sesuka hatinya,
Pasti kehidupan di dunia kan makin rusak binasa,
Hanya keresahan dan keonaran tercipta,
'kan semakin sulit mencari sepercik kesejukan dan keteduhan jiwa.

Garis keturunan yang semakin tak jelas; demikianlah salah satu fenomena yang saya tangkap di negara ini yang terdefinisi as developed country dengan segala embel embel industrialized, modernized dan -ed -ed lainnya. Tatkala ilmu dan teknologi makin berkembang pesat, maka nilai kehormatan akan garis keturunan yang jelas sudah tak lagi mendapat tempat. Wanita beramai ramai menuai kehamilan, tanpa jelas siapa yang berkontribusi di dalamnya. Bahkan ada kondisi di mana sang calon ibu tak lagi memperdulikan siapa bapak dari anak di rahimnya.

Namun demikian, kasus "Father-Test" ternyata semakin marak. Walau dengan jasa termurah yang nilainya $ 700, tetap saja penyelenggara servis tes keayahan laku keras. Pembuktiannya pun tidak hanya sesederhana formula apakah A anak dari bapak B, namun lebih dari itu yang lebih sering terjadi adalah apakah A anak dari bapak B, C, D, atau E. Bahkan deretan yang berpeluang menjadi bapak bisa lebih dari sekedar E dan G. Yang menyedihkan lagi, kadang hasil testnya pun semua negatif, alias tak ada satupun bapak biologis si anak dari para kandidat yang dicurigai. Ah manusia,...

Nasab yang tak jelas ini --bagi saya-- jelas berhubungan langsung dengan semakin bebasnya dan ditolerirnya segala macam bentuk pola pergaulan (baca:pergaulan bebas). Masyarakat sudah menganggap seks adalah kebutuhan sehari hari layaknya makan dan minum, yang dapat diperoleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Aktivitas seks di usia dini sudah dianggap hal yang lumrah, bahkan di anggap penting untuk pengalaman hidup di masa mendatang. Karenanya sudah bukan satu hal yang aneh di masyarakat ini, bila seorang ibu membekali putra-putrinya yang berangkat remaja dengan beberapa buah kontrasepsi sebelum mereka keluar rumah. Atau di lain kondisi, akan kerap dijumpai seorang ibu yang mengantarkan putri remajanya ke ginekolog untuk berkonsultasi tentang alat kontrasepsi sekaligus menebuskan resep pil anti hamil di apothek.

Seks yang bagi saya satu lambang kesucian, kasih sayang, keterikatan, kehormatan yang harus berdiri di bawah payung pernikahan, sudah tak lagi menjadi sesuatu yang sakral bagi masyarakat di sini*. Yang makin menyedihkan, seks yang semestinya bisa dijadikan salah satu sumber pahala bila dilakukan dalam kondisi halal, pun sudah tidak menjadi hal yang dipentingkan oleh beberapa komunitas masyarakat yang note bene berlabel muslim di lingkungan ini.

Seks bebas sudah menjadi hal yang biasa, berganti dan bertukar pasanganpun sudah tak lagi mengherankan. Hamil di luar pernikahan kerap terjadi, mengandung janin tanpa bapak sudah lazim ditemui. Tak heranlah bila sakralnya garis keturunan bukan lagi jadi satu hal yang penting dan dijunjung tinggi. Kasihan sekali bayi bayi yang tak berdosa itu, yang kadang tak lagi mengetahui dan mengenal siapa ayahandanya. Betapa malang bayi bayi mungil nan suci, yang kadang tercipta dari kejadian yang tak diharapkan dan tak di sengaja. Semoga Dia melindungi jalan hidup bayi bayi suci tersebut dan menjadikan mereka manusia yang lebih baik dari orang tuanya*.

Ah, benarlah nasihat bijak yang ada, bila kau tak tahu malu, berbuatlah sesuka hatimu!

* Menurut informasi kawan baik kami yang seorang penganut kristiani, pada masyarakat kristiani yang taat, nilai kesucian seks tetap dijunjung tinggi. Seks hanya dapat dilakukan setelah pria dan wanita terikat dalam ikatan pernikahan.

**Semoga Dia memberikan kemampuan dan kekuatan bagi kami untuk dapat mendidik buah hati dan permata kami menjadi manusia yang berakhlaq karimah, yang bermanfaat bagi alam semesta. Amin.