Bila "Andai dan Jika" Itu Tiba...*
Tuesday, November 09, 2004
Pernah tibakah kita di satu titik waktu kejenuhan, di mana akhirnya kita memimpikan satu skema kehidupan yang berbeda dari apa yang telah selama ini di jalani?.
Pernah terbesitkah di hati, tatkala kita tak mendapatkan sesuatu yang diimpi-impikan, maka secara tak sengaja kita merasa dunia tak adil memperlakukan diri?
Pernah terlintaskah di pikiran, bahwa bila ada satu celah yang membawa kita ke masa lalu, maka inginlah diri merubah jalan hidup yang telah terjadi dan sejarah yang telah terukir?
..................................................
Tatkala kita sampai di titik dan puncak kecewa, maka kadang secara tak sengaja, hadirlah "andai dan jika" itu ke jiwa rapuh manusia. Mengintip secara perlahan ke jiwa, kemudian mencengkram erat pikiran kita dengan khayal dan angan yang ada;
"Ah..andaikan saya tak demikian...maka pasti...",
"Bila saya bisa merubah masa lalu...tentu akan ...",
"Jikalau saya tak hidup seperti ini...pasti nantinya ..."
...................
--Ah, dahulu ..saya pernah mengalami semuanya, ..kadangpun masih tetap terlintas di angan jiwa--**
Kekecewaan yang ditumpuk dengan angan angan, tak akan mengobati hati yang sedang luka. Lebih dari itu malah akan makin merusak jasad dan bathin yang ada. Bahkan nantinya secara tak sengaja, kita kan terseret di satu kondisi, dimana kita tak lagi mensyukuri apa yang telah Dia karuniakan pada diri hingga detik di tarikan nafas saat ini: satu karunia, yang mungkin tak sempat dinikmati oleh orang orang yang ada di sekitar kita, orang yang nasibnya mungkin tidak lebih beruntung dari diri yang sedang tercabik perihnya luka.
Ah jiwamu yang lemah dinda...,**
Dia Selalu Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaanNya. Dan diri ini tak kan pernah tahu apa yang terbaik buat kita. Karenanya yakinilah di jiwa, apapun yang kini dialami, adalah skenario yang terbaik dariNya buat diri, walau mungkin kan membuat kita kecewa. Tancapkan kuat di hati, bahwa di balik setiap kejadian, akan ada pelajaran berharga yang dapat dipetik. Entah kini, entah esok, entah di masa mendatang.
Ah, teringat kembali nasihat bijak yang sering saya jadikan penguat untuk menangkal munculnya angan angan kosong yang akan merugikan hati dan diri: janganlah dirimu ber-jika, ber-kalau dan ber-andai andai pada kejadian telah lewat yang tak kan kembali; karena di sanalah terbuka pintu syaithon durjana untuk masuk ke diri kita. Dan bila ia telah masuk ke jiwa dan bersemayam di dalamnya, maka kan terkotorilah cermin diri.., cermin hati kita yang rapuh dengan mudahnya...
* tidak dalam hubungannya di kondisi pembangunan kreatifitas.
** untaian kalimat untuk diri saya sendiri.
Pernah terbesitkah di hati, tatkala kita tak mendapatkan sesuatu yang diimpi-impikan, maka secara tak sengaja kita merasa dunia tak adil memperlakukan diri?
Pernah terlintaskah di pikiran, bahwa bila ada satu celah yang membawa kita ke masa lalu, maka inginlah diri merubah jalan hidup yang telah terjadi dan sejarah yang telah terukir?
..................................................
Tatkala kita sampai di titik dan puncak kecewa, maka kadang secara tak sengaja, hadirlah "andai dan jika" itu ke jiwa rapuh manusia. Mengintip secara perlahan ke jiwa, kemudian mencengkram erat pikiran kita dengan khayal dan angan yang ada;
"Ah..andaikan saya tak demikian...maka pasti...",
"Bila saya bisa merubah masa lalu...tentu akan ...",
"Jikalau saya tak hidup seperti ini...pasti nantinya ..."
...................
--Ah, dahulu ..saya pernah mengalami semuanya, ..kadangpun masih tetap terlintas di angan jiwa--**
Kekecewaan yang ditumpuk dengan angan angan, tak akan mengobati hati yang sedang luka. Lebih dari itu malah akan makin merusak jasad dan bathin yang ada. Bahkan nantinya secara tak sengaja, kita kan terseret di satu kondisi, dimana kita tak lagi mensyukuri apa yang telah Dia karuniakan pada diri hingga detik di tarikan nafas saat ini: satu karunia, yang mungkin tak sempat dinikmati oleh orang orang yang ada di sekitar kita, orang yang nasibnya mungkin tidak lebih beruntung dari diri yang sedang tercabik perihnya luka.
Ah jiwamu yang lemah dinda...,**
Dia Selalu Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaanNya. Dan diri ini tak kan pernah tahu apa yang terbaik buat kita. Karenanya yakinilah di jiwa, apapun yang kini dialami, adalah skenario yang terbaik dariNya buat diri, walau mungkin kan membuat kita kecewa. Tancapkan kuat di hati, bahwa di balik setiap kejadian, akan ada pelajaran berharga yang dapat dipetik. Entah kini, entah esok, entah di masa mendatang.
Ah, teringat kembali nasihat bijak yang sering saya jadikan penguat untuk menangkal munculnya angan angan kosong yang akan merugikan hati dan diri: janganlah dirimu ber-jika, ber-kalau dan ber-andai andai pada kejadian telah lewat yang tak kan kembali; karena di sanalah terbuka pintu syaithon durjana untuk masuk ke diri kita. Dan bila ia telah masuk ke jiwa dan bersemayam di dalamnya, maka kan terkotorilah cermin diri.., cermin hati kita yang rapuh dengan mudahnya...
* tidak dalam hubungannya di kondisi pembangunan kreatifitas.
** untaian kalimat untuk diri saya sendiri.
*)My Page





