<$BlogRSDUrl$>
*)My Page

Satu Tahun Yang Lalu...

Friday, September 03, 2004

Telah datang peri kecil ke dunia bunda.
Mutiara keluarga yang lama dinanti akhirnya tiba.
Fathima Amatul Aziz, demikian namanya.

Ya Robbi, sirami Fathima dengan Sayang dan Kasihmu di sepanjang hidupnya.
Titipkan pada Fathima walau hanya setetes keagungan sifat ibunda Fathima Az-Zahra.
Sebagaimana harapan ayah-bundanya menamai amanah putri pertama dariNya.

12 bulan yang lalu, fathima datang ke kehidupan ayah-ummi. Ummi ingat sekali, tepat awal januari 2003 ummi kembali tak mengalami menstruasi. Ternyata doa ayah-ummi dikabulkan agar dapat kembali memberikan adik buat emas dan mas-mu tepat ketika mereka berusia lima dan dua tahun. Segera ummi memastikan kehadiran janin kecil di rahim ummi, dengan memeriksakan diri ke Frau Dokter Jutta. Dan benarlah adanya. Telah hadir satu bentuk kehidupan dengan degup detak jantungnya yang begitu cepat. Ah..dikaukah mutiara ayah ummi?. Entah mengapa, ada bisik di hati ummi yang berkata, rasanya kali ini fathima-lah yang sedang ummi tatap melalui layar kaca. Walau tak pernah ummi tuturkan dalam bentuk ungkapan kata.


Di tri semester pertama kehamilan fathima ummi sudah bisa agak bernafas lega, karena segala urusan studi ummi telah lama selesai. Ummi pun sudah menetapkan hati..ummi akan gunakan jatah Erziehungszeit ummi, agar bisa lebih berkonsentrasi menjalani dan menimati masa masa kehamilan yang ketiga ini. Sekaligus untuk dapat berkonsentrasi pada persiapan pendidikan emas dan mas, yang mungkin tak dapat ummi optimalkan selama ummi masih bersibuk dengan diktat dan jurnal. Ummi ingin menikmati masa masa dispensasi sebelum kembali sibuk dengan literatur dan tugas tugas kembali. Mengandung fathima di masa masa ini amat menyenangkan walaupun ummi tetap di sibukkan dengan urusan emas dan mas yang cukup menyita energi. Namun Dia begitu baik pada ummi, sehingga ummi sama sekali tidak menemukan kesulitan yang berarti. Bahkan ummi makin merasa fit ketika mengandung fathima pada tiga bulan pertama ini. Fathima setia menemani ummi dengan urusan mensortir dan mengepak barang untuk urusan kepindahan ke kota yang kini kita tempati; tanpa protes yang mungkin akan membuat ummi makin pusing, mual dan lemas.

Tiga bulan yang ummi alami di tri semester ke dua juga amat mudah ummi lalui. Padahal masa itu ummi sibukkan dengan pergi mondar mandir kota lama dan kota baru ini. Tiap akhir minggu selama satu bulan pertama kepindahan, selalu ayah-ummi isi dengan menempuh perjalanan ke kota lama beserta emas dan mas. Tak lain hanya untuk merapihkan rumah lama, yang sebenarnya menurut pemiliknya tidak perlu direnovasi. Tapi ayah ummi sepakat untuk memperbaiki rumah tersebut agar nampak lebih baik dari pertama kali ayah ummi tempati. Selama sebulan itu fathima anteng sekali menemani ummi ketika ummi mencat rumah, membersihkan karpet, mengelap jendela bahkan ketika membersihkan kamar mandi bersama ayah. Fathima pun tidak pernah protes ketika ummi harus bepergian seharian hanya dengan emas dan mas ke kota lama untuk sekedar menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan. Fathima begitu baik pada ummi.

Tak terasa 6 bulan pertama kehamilan telah ummi jalani. Di tiga bulan terakhir, ummi merasa makin sehat dan sehat. Bahkan untuk pergi ke senam persiapan melahirkan yang jauhnya hampir satu kilometer dengan medan perbukitan, ummi jalani hanya dengan berjalan kaki. Selama masa masa ini ummi selalu berdoa agar semoga Dia mengizinkan ummi melahirkan fathima dengan cara yang natural, alami. Semoga Dia mengabulkan permintaan ummi agar ummi dijauhkan dari meja operasi. Mengingat riwayat melahirkan mas yahya yang sedemikan rumit, maka ummi telah menjalani pemantauan intensif di rumah sakit sejak minggu ke 36 kehamilan dirimu. Dan seperti biasa, di minggu ke 37 ummi kembali harus minum magnesium karena telah munculnya kontraksi yang cukup kuat di rahim ummi. Alhamdulillah ummi dapat beraktifitas seperti biasa, hanya tak boleh terlalu lelah sampai dirasa.

Di awal minggu ke 39 saat berkonsultasi dengan pak dokter di rumah sakit, ummi mendapatkan kabar yang mengejutkan. Pak dokter sampaikan, fathima saat itu posisinya masih saja belum turun, padahal beratnya nampaknya sudah amat cukup. Setelah menghitung sana sini, pak dokter katakan berat fathima kala itu sudah sekitar 3300-3400 gram. Ia perkirakan, bila menunggu tanda tanda melahirkan, fathima baru akan muncul pada minggu ke 41. Karenanya ia khawatir berat fathima nanti makin membengkak--bahkan bisa melewati berat mas yahya yang 4670 gramm itu--padahal di rahim ummi telah ada bekas luka jahitan ketika melahirkan mas yahya dahulu. Hari itu merupakan hari bingung bagi ayah-ummi, juga merupakan hari sibuk bagi para dokter senior di rumah sakit. Bahkan dokter kepala ginekologi-pun turut memberikan urun rembugnya dengan memberikan penjelasan yang teramat jelas pada ummi atas segala konsekuensi yang ada. Di akhirnya, pihak rumah sakit memberikan keputusan bahwa di kondisi ummi seperti ini, jalan operasilah yang terbaik dan teraman. Operasinya pun harus dilakukan sesegera mungkin setelah memperhatikan faktor faktor resiko yang ada. Saat itu yang ayah-ummi pikirkan hanya keselamatan fathima. Kalaupun harus menjalani operasi untuk kedua kali, akan ummi tunaikan dengan ikhlash, agar fathima dapat lahir dengan selamat ke dunia. Hari itu pula ummi selesaikan segala urusan pemeriksaan dan birokrasi operasi yang keesokan harinya akan dilaksanakan. Ummi yakin, ALloh akan melindungi ummi dan fathima. Amin.

Di pagi hari 3 september 2003 ayah dan ummi pergi bersama ke rumah sakit, setelah sebelumnya mengantarkan emas dan mas ke rumah onkel Dervis yang ada di Neckarstr. Setelah mencium emas dan mas, ummi kembali masuk ke mobil dan meninggalkan emas dan mas dengan diiringi lambaian tangan. Di rumah sakit, ummi dan ayah langsung memasuki kamar istirahat yang akan ummi gunakan selama menginap di sana. Ummi juga ikut menemani ayah sarapan pagi di kantin, walaupun ummi harus menahan lapar yang sangat karena sudah 12 jam tidak makan dan minum. Namun ummi rela melakukannya, demi keselamatan fathima.

Menjelang jam 09.30 pagi, ummi memakai pakaian operasi dengan segala kaos kaki ketatnya dengan dibantu oleh ayah dan perawat. Tak lama kemudian ummi diantarkan ke kamar anestesi untuk mendapatkan Spinalanastesi melalui tusukan tusukan jarum di punggung ummi. Sambil menahan tusukan dingin AC yang ada di ruangan biru itu, ummi harus berkali kali mengganti posisi menekuk perut yang gendut, hanya untuk menemukan tempat yang tepat agar jarum suntik ada di posisi yang akurat.

Tepat jam 10.10 ummi masuk ke ruang operasi. Di sana ayah telah menanti ummi dengan sabarnya. Ayah duduk di sebelah kiri ummi, dan di sebelah kanan ummi ada dokter anastesi yang sedemikian sabar selalu memasukkan rambut yang selalu keluar dari tutup kepala ummi. Dari permulaan masuk ruangan, ummi memang dalam kondisi pikiran yang fit, sehingga ummi tidak terlalu merasa dingin dan dapat mengamati selalu apa yang terjadi (walau hanya melalui aktifitas telinga). Bahkan percakapan para dokter, jumlah suara yang ada di kamar operasi, dan percakapan yang terjadi antar dokter yang mengelilingi meja operasi ummi tak luput dari pendengaran ummi. Hingga mendekati saat kelahiran fathima, ayah-ummi pun tak tahu siapa yang akan ke lahir ke muka bumi...seorang fathimakah ataukah yang lainnya. Bahkan percakapan nama yang akan dipilih tetap mewarnai ayah dan ummi selama menjalani masa operasi :). Tepat jam 10.19 di 3 september 2003 terdengar suara tangis fathima untuk pertama kali. Saat itu pula para dokter berkata, telah lahir bayi cantik mungil ke dunia. Ahh...alhamdulilah, ternyata bisikan hati ummi di awal januari 2003 itu benar adanya, telah datang ke kehidupan ayah, ummi, emas dan mas....seorang fathima yang membawa berat 3480 gramm di badannya. Selamat hadir ke muka bumi putri pertama ayah dan ummi!

Satu tahun yang lalu, ummi kembali harus merasakan sakit akibat operasi. Sakit perih kembali di perut ketika harus belajar bangun dari tempat tidur untuk pertama kali. Sakit serasa teriris ketika harus berdiri menapak di lantai untuk pertama kali. Sakit yang teramat sakit. Sakit yang terasa lebih sakit dibandingkan ketika melahirkan mas yahya dahulu. Namun sakit inipun juga terlupakan oleh ummi kala memandang wajah fathima yang sedemikian manis dan mungil. Mungil kecil bagaikan putri timun emas yang sering ummi baca ketika ummi kecil dulu. Ah Fathima, betapa hadirmu ke kehidupan ummi dan ayah bagaikan rembulan yang menebarkan kedamaian, keindahan dan keteduhan di muka bumi. Puji syukur selalu ayah ummi panjatkan pada Robbi, karena ayah-ummi di berikan kesempatan memelihara amanah fathima ini. Semoga permulaan di 12 bulan yang lalu makin membuat ayah dan ummi memperbaiki diri, agar dapat menunaikan kepercayaan Robbi pada kami: Fathima Amatul Aziz yang amat ayah ummi kasihi dan sayangi.