Tiga Tahun Yang Lalu...
Sunday, August 15, 2004
Ya Robbiku, hamba titipkan yahya padaMu.
Iringi jalan hidupnya dengan sayang dan kasihMu.
Perkenankan ia mengenggam kesabaran, kearifan,
serta pendirian teguh kekasihMu Yahya alahis salaam,
yang di siang malamnya hanya dipenuhi bunga pengabdian padaMu.
Layaknya harapan kami menghadiahkan nama yahya, amanah kedua dariMu.
Tiga tahun yang lalu, yahya mulai hadir dalam kehidupan ayah-ummi. Di awali oleh berita gembira dari Frau Dokter Jutta di musim dingin 2000, telah hadirnya diri yahya di rahim kecil ini, yang telah berusia empat minggu. Betapa gembiranya ayah-ummi kala itu, juga emas yusufmu. Terlebih ketika kami memandang bersama foto USG pertama dari yahya, ah telah ada kehidupan di rahim ini, kata ummi lirih pada ayah. Saat itupun telah ada bisik di hati ummi, insya allah kami akan menghadiahkan emas yusufmu, adik laki laki yang lucu :).
Iringi jalan hidupnya dengan sayang dan kasihMu.
Perkenankan ia mengenggam kesabaran, kearifan,
serta pendirian teguh kekasihMu Yahya alahis salaam,
yang di siang malamnya hanya dipenuhi bunga pengabdian padaMu.
Layaknya harapan kami menghadiahkan nama yahya, amanah kedua dariMu.
Tiga tahun yang lalu, yahya mulai hadir dalam kehidupan ayah-ummi. Di awali oleh berita gembira dari Frau Dokter Jutta di musim dingin 2000, telah hadirnya diri yahya di rahim kecil ini, yang telah berusia empat minggu. Betapa gembiranya ayah-ummi kala itu, juga emas yusufmu. Terlebih ketika kami memandang bersama foto USG pertama dari yahya, ah telah ada kehidupan di rahim ini, kata ummi lirih pada ayah. Saat itupun telah ada bisik di hati ummi, insya allah kami akan menghadiahkan emas yusufmu, adik laki laki yang lucu :).
Awal bulan kehamilan dengan mudah ummi jalani. Kehamilan yahya di tiga bulan pertama ini sama sekali tak membuat ummi hipermesis, walau tak nafsu makan selalu ada di setiap hari. Emas yusuf yang masih dua tahun pun sama sekali tidak membuat ummi susah, karena emas begitu mandiri. Di masa masa ini, yahya sebegitu baiknya pada ummi. Menemani ummi mengantar emas yusuf ke Kinderhaus di tiap hari, bahkan setia bersama ummi tanpa menyusahkan kala ummi harus bolak balik Rechnenzentrum, Bibliothek, hadir di perkuliahan ataupun bersepeda ke kantor ayah di uni.
Di tri semester kedua perut ummi sudah sedemikian besar karena berkembang pesatnya diri yahya di rahim ummi. Semua orang yang memandang perut ummi pasti berkata, akan lahir kembali putra kedua dari ummi dan ayah. Ah, walau bisikan itu telah ada di hati ummi sejak dulu, ummi tak berani berharap. ALloh pasti akan memberikan terbaik bagi ummi dan ayah, ummi amat yakin akan hal itu. Walau kadang tetap ada sedikit harap..semoga yahya-lah yang lahir ke dunia menjumpai ayah-ummi. Hasil USG ke duapun sama sekali tak memberikan harapan untuk mengetahui jenis kelamin yahya, karena posisi yahya selalu tidak günstig untuk dilihat. Dan kembali , masa masa ini ummi lalui tanpa banyak masalah. Yahyapun sama sekali tidak protes karena ummi makin senang bersepeda dan berjalan jalan sendirian di kota selama emas yusuf di TK. Hingga tak terasa, kembali kontraksi awal telah muncul di akhir bulan ke enam. Dan kembali, ummi harus minum magnesium seperti saat hamil emas yusufmu tiga tahun yang lalu. Namun alhamdulillah ummi masih tetap bisa beraktivitas normal, sekedar mengerjakan pekerjaan rumah dan ke universitas masih tak mengapa, kata bu dokter Jutta.
Tak terasa tiga bulan terakhir kehamilan yahya ummi telah jalani. Yahya yang semakin mengisi perut ummi, sering membuat ummi harus beristirahat di sela pengerjaan rangkuman hasil penelitian untuk tugas akhir yang sedang ummi tekuni. Seperti biasa, yahya begitu baik tatkala menemani kesibukan ummi membuat thesis. Sekedar berbaring di ruang istirahat institut selama 15 menit, sudah cukup membuat yahya tertidur lagi dan tak menendang nendang perut gendut ummi.
Yahya begitu betah di rahim ummi. Bahkan hingga hari perkiraan termin kelahiran tiba pun yahya masih dengan tenang bobo tak menimbulkan kontraksi. Padahal magnesium sudah tak ummi minum sejak pekan ke 38 kehamilan yahya. Saat termin lahir yahya yang bersamaan dengan cuti liburnya bu dokter Jutta, membuat ummi langsung di transfer ke rumah sakit kota. Ummi harus ke rumah sakit universitas ini tak lain untuk menjalani pengawasan ketat kehamilan, mengingat ummi punya potensi akan di caesarian sebesar 80%, tak lain karena terlalu besarnya yahya di perut ummi. Selama satu minggu setelah termin lahir yahya selalu ummi isi dengan berjalan jalan bersama ayah dan emas yusuf. Kunjungan ke rumah sakit per dua haripun selalu tak luput. Siapa tahu dengan itu yahya akan terpacu untuk keluar dari perut ummi yang sudah sedemikian gendut, yang telah bertambah 10 kg dari sebelum hamil dulu.
Di pagi hari tanggal 14 agustus tiga tahun yang lalu, ummi sudah merasakan sakit perut yang tidak biasa. Sakit perut yang bercampur dengan kram perut seperti yang juga ummi rasakan ketika akan melahirkan emasmu dulu. Karenanya ummi yakin, di hari ini insya allah ummi akan ke rumah sakit dan berjumpa dengan yahya untuk pertama kali. Tepat jam 7 malam ketuban ummi pecah. Tapi ummi sama sekali tak bingung atau khawatir, karena ummipun pernah mengalami hal yang sama saat emas yusuf lahir ke dunia. Setelah emas yusuf dititipkan di onkel Ahmet, ummi dan ayah pergi ke rumah sakit dengan bau wangi di badan ummi. Iya, karena setelah ketuban pecah itu, ummi sengaja membersihkan diri agar masuk ke ruang melahirkan dengan perasaan segar, nyaman dengan langkah yakin pasti :).
Jam 20.00 ummi sampai ke ruang pemeriksaan di rumah sakit. Saat itu baru ada pembukaan 1 cm di rahim ummi. Karenanya ummi dan ayah dipersilahkan untuk menunggu pembukaan rahim selanjutnya di ruang melahirkan yang tak terlalu besar itu. Ruang yang bersebelahan dengan kamar melahirkan yang teramat nyaman, kala ummi melahirkan emas yusuf dahulu. Hingga jam 22.00 pembukaan yang ada hanya bertambah 1 cm. Mulanya ummi sudah mengira akan mengalami hal yang sama ketika melahirkan emasmu dulu; 24 jam berjuang dengan hormon pencetus kontraksi.
Alhamdulillah ALloh begitu baik, pembukaan 10 cm ummi alami tepat di jam 00.30, karenanya suster pendamping sudah amat yakin bahwa yahya akan lahir ke dunia dengan segera. Ia teramat yakin yahya akan dapat datang ke dunia melalui persalinan normal tanpa bantuan alat tertentu. Namun beberapa menit setelah pembukaan 10 itu, ummi merasakan sakit yang tak pernah ummi rasakan saat melahirkan di tahun 98 yang lalu. Sakit yang teramat sangat. Sakit yang membuat ummi menjadi galak hingga mencubit keras ayah yang kala itu menemani (makasih ya yah..sudah sedemikian sabar mendampingi ummi :D). Dan saat itupun ummi amat yakin, yahya tak akan dapat dilahirkan ke dunia melalui persalinan biasa. Karenanya di sela sakit kontraksi yang teramat sangat, ummi meyakinkan suster pendamping bahwa tindakan operasi adalah jalan akhir dari proses kelahiran yahya. Namun sayang, suster tetap berkeyakinan bahwa yahya dapat melalui jalan lahir biasa. Saat itu ummi bersikeras untuk dipanggilkan dokter senior untuk memeriksa pergerakan turun kepala yahya di rahim ummi. Alhamdulillah pak dokter membenarkan firasat ummi. Di sela sela sakit yang teramat hebat itu, ummi harus menandatangani beberapa lembar kertas tentang persetujuan tindakan operasi. Namun ummi tetap tak lupa untuk meminta pada pak dokter agar ayah tetap mendampingi ummi di ruang operasi, dan ummi ingin menjalani operasi ini dalam keadaan sadar diri.
Tak berapa lama kemudian, ummi memasuki ruang anastesi. Bu dokter anastesi memilihkan ummi peridural anastesi kali ini. Tusukan tusukan di punggung dalam posisi menekuk memeluk perut gendut cukup membuat ummi cape dan tak nyaman. Alhamdulillah ummi tak lama di ruang itu, kemudian ummi dipindahkan ke ruang operasi bercat hijau yang teramat dingin. Tirai hijau di pasang di atas perut ummi, mungkin bertujuan agar ummi dan ayah tidak dapat melihat proses operasi caesar kelahiran yahya yang sedang berlangsung. Dingin ruangan operasi yang membuat ummi menggigil, terasa hilang tak terasa oleh perasaan gembira menanti kelahiran yahya ke dunia. Bersamaan dengan terdengarnya suara tangis bayi yang bernada berat pada pukul 02.45 di 15 agustus 2001 , para bapak ibu dokter mengucapkan selamat atas kelahiran bayi laki laki yang sehat. Ya, alhamdulillah yahya lahir dengan selamat ke dunia dengan membawa 4670 gramm berat di badannya. Selamat datang ke dunia anak ayah dan ummi!.
Tiga tahun yang lalu, ummi merasakan sakit pertama kali akibat operasi. Sakit perih di perut ketika harus belajar bangun dari tempat tidur untuk pertama kali. Sakit serasa teriris ketika harus berdiri menapak di lantai untuk pertama kali. Sakit yang teramat sakit. Namun sakit inipun seakan terlupakan oleh ummi kala memandang wajah yahya yang sedemikian manis dan lucu. Bulat gendut seperti layaknya bayi yang telah menjalani dua purnama setelah kelahirannya ke dunia. Ah yahya, betapa hadirmu ke kehidupan ummi dan ayah bagaikan matahari yang menebarkan kehangatan dan keindahan di muka bumi. Syukur selalu ayah ummi panjatkan pada Robbi, karena kami di berikan kesempatan memelihara amanah yahya ini. Semoga permulaan di tiga tahun yang lalu makin membuat ayah dan ummi memperbaiki diri, agar dapat menunaikan kepercayaan Robbi pada kami: yahya abdul aziz yang amat ayah ummi sayangi.
*)My Page





