Kala Purnama Bersinar....(III)
Sunday, August 01, 2004
Kala Purnama Bersinar (III)
Sepanjang perjalanan, ayah meminta saya untuk mendekatkan kepala saya di bahunya sambil memeluknya. Ayahpun meminta dengan isyarat agar saya tak berhenti melantunkan senandung ayat al qur'an sambil mengenggam tangan beliau. Saya tak ingin membicarakan kekecewaan saya pada rumah sakit besar ini yang mulanya saya harapkan bisa memberikan pelayanan optimal pada ayahanda tercinta. Kondisi ayah semakin memburuk, kesadaran ayah pun hilang sejak jum'at malam, tepat setelah kedatangan tiga cucunya yang baru saja datang dari bandara. Seakan ia menunggu pergi kesadarannya hingga kami semua anak cucunya berkumpul, sesuai dengan harapan akhir ayahanda.
Kami semua sudah berusaha menata hati agar ikhlash melepaskan ayahanda, bila Dia telah memutuskannya. Pelukan dan nasihatpun juga mengalir dari istri ustadz madani, yang setia menemani kekasihnya di sebelah tempat tidur ayah, di kamar merah muda ini. Ketika saya mencium ayahanda sambil berusaha melihat nadi dan menghitung sistol diastol serta kadar gula darah ayah, saya mengetahui, bahwa di kondisi ini, ayah sulit untuk tertolong. Usai bermusyawarah dengan bunda , emas dan adik serta meminta pendapat dokter senior, kami memutuskan untuk melepas segala alat bantu yang ada di badan ayah. Kami ingin ayah pergi menemui Robbnya dalam keadaan tenang dan tak terbebani dengan segala alat kedokteran yang ada. Bunda dengan tegar memohon agar tak ada air mata ketika kami menemani beliau dijemput oleh malaikat izrail. Bundapun meminta agar kami hanya menyenandungkan kalimat thoyyibah, agar ayahanda hanya mendengar kalimat pujian pada Robbnya, bukan isak tangis yang mungkin akan menyedihkannya, ketika ruhnya akan diajak oleh izrail ke alam barzah. Saya berusaha tegar, walau isak di hati bergemuruh. Saya lafalkan kalimat thoyyibah, sambil mengamati denyut nadinya yang makin lama melemah. Saya berusaha sabar dan meyakini, bahwa ini adalah hal yang terbaik buat ayah karena Dia tak ingin ayah tersiksa terlalu lama dengan penyakit yang beliau derita. Sudah cukup kesabaran yang ayah jalankan selama bertahun tahun dalam menjalani masa sakit beliau. Ya, mungkin ALloh tak ingin ayah harus berlama lama kembali menderita. Tubuh ayah menjadi makin tidak hangat, nadi ayah semakin tak teraba, nafas ayah semakin hilang. Dan menjelang jam 10 siang di hari jum'at 6 september 2002, ayah pergi ke haribaanNya, dengan senyum yang menghiasi wajah dan bau wangi tubuh yang ada. Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'un, ayah pergi meninggalkan dunia fana. Saya yakin, Dia lebih sayang pada ayah, di banding kami keluarganya. Ada perasaan lega di diri saya, karena ayah dapat menjani sakaratul maut ini dengan mudah.
Sunnahpun alhamdulillah dapat terlaksana, karena kebaikan murid murid bunda, yang segera mengurusi rumah, tempat mandi jenazah, serta tempat peristirahatan akhir ayah tercinta. Dalam hitungan satu jam, semua telah tersedia. Sesampai di rumah mungil yang jadi bukti kasih sayangnya pada kami sekeluarga, kembali bunda berkata, kematian adalah pasti, karena nya jangan kami sesali. Sekedar tetesan air mata rasa sedih adalah satu kewajaran, sebagaimana Rosul tercinta menangis, ketika memandikan putra satu satunya yang beliau cinta, yang kembali ke haribaanNya. Kami mandikan beliau dengan sayang dan cinta. Basuhan lembut air yang tercampur sabun dan wangi kamper, saya usapkan di sekujur tubuh ayah yang belum mendingin pula. Wajah ayah begitu tenang dengan senyuman khas yang tersungging di pojok mulutnya, seakan berkata pada kami yang ditinggalkan "jangan bersedih anakku, ayah ikhlash menuju Robb yang menciptakan ayah dahulu". Dan janji saya di maret tahun itu, saya tunaikan dengan rasa sedih menyayat hati. Saya bersihkan jari jemari ayah di tangan dan kaki, agar ayah menghadap Robbnya dalam keadaan terbaik. Bersih dan wangi. Kami putra putrinya mengkafani beliau dengan berhati hati. Kami lakukan sholat janazah untuk jamaah wanita, yang diimami bunda sendiri. Kucing kesayangan ayahpun setia menemani, hingga ayah diantarkan ke mesjid, untuk kembali di sholati dengan jamaah jum'at yang ada di mesjid di kompleks perumahan ini. Di mesjid yang jadi saksi bisu, tempat dimana ayah kadang pingsan ketika melakukan sholat jum'ah berjamaah, disanalah ayah disholatkan untuk terakhir kali. Dengan duka mendalam, saya kembali sentuh kain kafan ayah, dan saya ciumi dengan kasih , sambil bisikkan kata lirih "selamat jalan ayah, selamat jalan menuju alam barzakh. Semoga ALloh menyayangi ayah, dan berkenan memberikan ayah kehidupan yang baik, menunggu waktu kita bertemu kembali." Dan mobil yang mengangkut jenazah ayah hilang dari pandangan mata. Saya bertekad akan segera berziarah kubur di pemakaman ayah, di keesokan harinya. Saya termangu sendiri dan baru kembali saya sadari, mulai purnama esok, jasad ayah tak lagi menemani kami...
Kala purnama bersinar di malam ini,
Terlintas kembali kenangan kenangan manis bersama ayah dan bunda. Kenangan yang selalu menemani kehidupan saya menapaki alam kedewasaan ini, dan bahkan kan selalu menemani hingga saya tua nanti. Menatap purnama di balik jendela kamar di malam ini, mengingatkan saya kala menikmati masa masa purnama dulu bersama ayah dan bunda. Memandang bersama sinar keemasannya, baik ketika sekedar jalan bersama ketika bunda mengandung hingga duduk di tepi pantai kuta, bahkan saat sekedar duduk di atap, di samping pohon belimbing belakang halaman rumah, untuk sekedar bertanya dimanakah ayah berada.
Dua tahun menjelang beliau pergi.
Semoga ALloh memudahkan beliau menjalani hidup di alam akhirat yang kini beliau jalani.
Semoga ALloh berkenan memberikan pada beliau gambaran kenikmatan yang akan dinikmati sebagai ganjaran kebaikan yang telah ia usaha berikan pada kami.
Semoga ALloh meringankan segala kesalahan yang beliau lakukan di dunia dan berkenan memaafkan sekedar salah dan khilafnya sebagai manusia.
Semoga ALloh memberikan kekuatan kepada saya untuk tetap menjalani amal jariyah beliau kepada saya, sehingga tabungan pahala beliau dapat selalu kuncup dan berbunga,
Semoga ALloh berkenan satu saat mengumpulkan saya (dan kami sekeluarga) di dalam limpahan Kasih SayangNya di dalam taman syurgaNya..
Dua tahun menjelang dirimu pergi ayahanda. Namun potret diri serta ajaran kebijakan ayah selalu mengiringi nanda dalam meniti masa masa tua. Walau nanda tak dapat kembali menjumpai ayah di dunia ini, doa untukmu selalu ada di tiap sujud-sujudku padaNya. Pun di saat nanda menemani cucu cucu ayah menjelang pergi tidur; di sana nanda senandungkan doa yang bunda ajarkan pada kami di kala kami kecil;
"Ya Alloh selamatkanlah ayah dalam tugas,
dan berhasilkanlah usahanya.
Ya ALloh selamatkanlah kami sekeluarga,
di dunia dan di akhirat.
Amin"
Semoga kamboja yang kami tanam di sana, selalu kuncup dan berbunga.
Sebagaimana mengalirnya amal jariyah yang telah ayah tanam di dunia,
Sayangilah beliau Robbku,
Sebagaimana beliau menyayangiku di masa kecilku,
Amin.
Ayah, betapa nanda merindukan dirimu. ...
Sepanjang perjalanan, ayah meminta saya untuk mendekatkan kepala saya di bahunya sambil memeluknya. Ayahpun meminta dengan isyarat agar saya tak berhenti melantunkan senandung ayat al qur'an sambil mengenggam tangan beliau. Saya tak ingin membicarakan kekecewaan saya pada rumah sakit besar ini yang mulanya saya harapkan bisa memberikan pelayanan optimal pada ayahanda tercinta. Kondisi ayah semakin memburuk, kesadaran ayah pun hilang sejak jum'at malam, tepat setelah kedatangan tiga cucunya yang baru saja datang dari bandara. Seakan ia menunggu pergi kesadarannya hingga kami semua anak cucunya berkumpul, sesuai dengan harapan akhir ayahanda.
Kami semua sudah berusaha menata hati agar ikhlash melepaskan ayahanda, bila Dia telah memutuskannya. Pelukan dan nasihatpun juga mengalir dari istri ustadz madani, yang setia menemani kekasihnya di sebelah tempat tidur ayah, di kamar merah muda ini. Ketika saya mencium ayahanda sambil berusaha melihat nadi dan menghitung sistol diastol serta kadar gula darah ayah, saya mengetahui, bahwa di kondisi ini, ayah sulit untuk tertolong. Usai bermusyawarah dengan bunda , emas dan adik serta meminta pendapat dokter senior, kami memutuskan untuk melepas segala alat bantu yang ada di badan ayah. Kami ingin ayah pergi menemui Robbnya dalam keadaan tenang dan tak terbebani dengan segala alat kedokteran yang ada. Bunda dengan tegar memohon agar tak ada air mata ketika kami menemani beliau dijemput oleh malaikat izrail. Bundapun meminta agar kami hanya menyenandungkan kalimat thoyyibah, agar ayahanda hanya mendengar kalimat pujian pada Robbnya, bukan isak tangis yang mungkin akan menyedihkannya, ketika ruhnya akan diajak oleh izrail ke alam barzah. Saya berusaha tegar, walau isak di hati bergemuruh. Saya lafalkan kalimat thoyyibah, sambil mengamati denyut nadinya yang makin lama melemah. Saya berusaha sabar dan meyakini, bahwa ini adalah hal yang terbaik buat ayah karena Dia tak ingin ayah tersiksa terlalu lama dengan penyakit yang beliau derita. Sudah cukup kesabaran yang ayah jalankan selama bertahun tahun dalam menjalani masa sakit beliau. Ya, mungkin ALloh tak ingin ayah harus berlama lama kembali menderita. Tubuh ayah menjadi makin tidak hangat, nadi ayah semakin tak teraba, nafas ayah semakin hilang. Dan menjelang jam 10 siang di hari jum'at 6 september 2002, ayah pergi ke haribaanNya, dengan senyum yang menghiasi wajah dan bau wangi tubuh yang ada. Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'un, ayah pergi meninggalkan dunia fana. Saya yakin, Dia lebih sayang pada ayah, di banding kami keluarganya. Ada perasaan lega di diri saya, karena ayah dapat menjani sakaratul maut ini dengan mudah.
Sunnahpun alhamdulillah dapat terlaksana, karena kebaikan murid murid bunda, yang segera mengurusi rumah, tempat mandi jenazah, serta tempat peristirahatan akhir ayah tercinta. Dalam hitungan satu jam, semua telah tersedia. Sesampai di rumah mungil yang jadi bukti kasih sayangnya pada kami sekeluarga, kembali bunda berkata, kematian adalah pasti, karena nya jangan kami sesali. Sekedar tetesan air mata rasa sedih adalah satu kewajaran, sebagaimana Rosul tercinta menangis, ketika memandikan putra satu satunya yang beliau cinta, yang kembali ke haribaanNya. Kami mandikan beliau dengan sayang dan cinta. Basuhan lembut air yang tercampur sabun dan wangi kamper, saya usapkan di sekujur tubuh ayah yang belum mendingin pula. Wajah ayah begitu tenang dengan senyuman khas yang tersungging di pojok mulutnya, seakan berkata pada kami yang ditinggalkan "jangan bersedih anakku, ayah ikhlash menuju Robb yang menciptakan ayah dahulu". Dan janji saya di maret tahun itu, saya tunaikan dengan rasa sedih menyayat hati. Saya bersihkan jari jemari ayah di tangan dan kaki, agar ayah menghadap Robbnya dalam keadaan terbaik. Bersih dan wangi. Kami putra putrinya mengkafani beliau dengan berhati hati. Kami lakukan sholat janazah untuk jamaah wanita, yang diimami bunda sendiri. Kucing kesayangan ayahpun setia menemani, hingga ayah diantarkan ke mesjid, untuk kembali di sholati dengan jamaah jum'at yang ada di mesjid di kompleks perumahan ini. Di mesjid yang jadi saksi bisu, tempat dimana ayah kadang pingsan ketika melakukan sholat jum'ah berjamaah, disanalah ayah disholatkan untuk terakhir kali. Dengan duka mendalam, saya kembali sentuh kain kafan ayah, dan saya ciumi dengan kasih , sambil bisikkan kata lirih "selamat jalan ayah, selamat jalan menuju alam barzakh. Semoga ALloh menyayangi ayah, dan berkenan memberikan ayah kehidupan yang baik, menunggu waktu kita bertemu kembali." Dan mobil yang mengangkut jenazah ayah hilang dari pandangan mata. Saya bertekad akan segera berziarah kubur di pemakaman ayah, di keesokan harinya. Saya termangu sendiri dan baru kembali saya sadari, mulai purnama esok, jasad ayah tak lagi menemani kami...
Kala purnama bersinar di malam ini,
Terlintas kembali kenangan kenangan manis bersama ayah dan bunda. Kenangan yang selalu menemani kehidupan saya menapaki alam kedewasaan ini, dan bahkan kan selalu menemani hingga saya tua nanti. Menatap purnama di balik jendela kamar di malam ini, mengingatkan saya kala menikmati masa masa purnama dulu bersama ayah dan bunda. Memandang bersama sinar keemasannya, baik ketika sekedar jalan bersama ketika bunda mengandung hingga duduk di tepi pantai kuta, bahkan saat sekedar duduk di atap, di samping pohon belimbing belakang halaman rumah, untuk sekedar bertanya dimanakah ayah berada.
Dua tahun menjelang beliau pergi.
Semoga ALloh memudahkan beliau menjalani hidup di alam akhirat yang kini beliau jalani.
Semoga ALloh berkenan memberikan pada beliau gambaran kenikmatan yang akan dinikmati sebagai ganjaran kebaikan yang telah ia usaha berikan pada kami.
Semoga ALloh meringankan segala kesalahan yang beliau lakukan di dunia dan berkenan memaafkan sekedar salah dan khilafnya sebagai manusia.
Semoga ALloh memberikan kekuatan kepada saya untuk tetap menjalani amal jariyah beliau kepada saya, sehingga tabungan pahala beliau dapat selalu kuncup dan berbunga,
Semoga ALloh berkenan satu saat mengumpulkan saya (dan kami sekeluarga) di dalam limpahan Kasih SayangNya di dalam taman syurgaNya..
Dua tahun menjelang dirimu pergi ayahanda. Namun potret diri serta ajaran kebijakan ayah selalu mengiringi nanda dalam meniti masa masa tua. Walau nanda tak dapat kembali menjumpai ayah di dunia ini, doa untukmu selalu ada di tiap sujud-sujudku padaNya. Pun di saat nanda menemani cucu cucu ayah menjelang pergi tidur; di sana nanda senandungkan doa yang bunda ajarkan pada kami di kala kami kecil;
"Ya Alloh selamatkanlah ayah dalam tugas,
dan berhasilkanlah usahanya.
Ya ALloh selamatkanlah kami sekeluarga,
di dunia dan di akhirat.
Amin"
Semoga kamboja yang kami tanam di sana, selalu kuncup dan berbunga.
Sebagaimana mengalirnya amal jariyah yang telah ayah tanam di dunia,
Sayangilah beliau Robbku,
Sebagaimana beliau menyayangiku di masa kecilku,
Amin.
Ayah, betapa nanda merindukan dirimu. ...
*)My Page





