Kala Purnama Bersinar...(II)
Sunday, August 01, 2004
Kala Purnama Bersinar...(II)
Kala purnama bersinar di lima tahun yang lalu,
kembali ayah buktikan ketegaran hidupnya, tatkala melepas putra bungsu yang setia menemaninya. Untuk menggantungkan tinggi cita citanya, nun jauh di seberang sana. Tak ada sedih ataupun duka, ketika melepas adik saya satu satunya, kembali.., di terminal dua bandara. Senyum tulus mengiringi putra bungsunya hingga pintu kaca disertai lambaian tangan yang tak putusnya, di balik kaca jendela. Betapa ia rela mengorbankan kesepian dirinya, tak lain agar anak anak yang beliau cinta, dapat menapaki jalan yang kami impikan. Dengan harap, kami dapat lebih baik dibanding ayah tercinta. Ah ayah, betapa ayah mengorbankan semuanya.
Kala purnama bersinar di empat tahun yang lalu,
saya datang untuk menemui dirimu ayah bersama satu cucu lelaki kebanggaanmu. Walau perjalanan jauh ini harus saya hadapi tanpa kekasih, pun di sela tumpukan buku dan kertas penelitian lapang yang cukup berat, yang harus saya tenteng seorang diri ke kabin. Hati tak sabar menjumpai ayah yang selama ini saya nikmati suara beratnya melalui kabel tak bergambar. Ayah bunda, saya datang untuk kembali menikmati keberadaan denganmu. Saya datang untuk mulai belajar mengucapkan dengan kata sayang dan cinta padamu. Saya datang, walau harus rela lelah tak memejam mata selama 13 jam karena menjaga cucu lelaki ketiga kebanggaan ayah dan bunda. Saya rela melakukan semua itu sebagai salah satu perwujudan birrul walidain padamu. Ah, ayah kini tidak seperti dulu. Tubuh ayahanda yang dahulu tegap berisi, kini berganti dengan langsing yang cenderung kering. Dan tiga purnama kembali berlalu. Kembali kejadian tujuh tahun lalu terulang lagi, saya kembali menangis berisakkan hingga Lufthansa sampai di bandara tujuan. Kembali harus saya jalani hari hari berjauhan dengan ayah dan bunda. Kembali saya harus menata hati, bahwa hal inilah adalah takdir terbaikNya yang harus saya jalani sebaik mungkin.
Kala purnama bersinar di dua tahun yang lalu,
kembali ku datang ke pangkuan ayahanda untuk kembali menikmati kebersamaan denganmu. Terlihat jelas kebahagiannya pada keluarga kecil kami, terlebih pada dua cucu lelaki yang amat terlalu pandai menarik hati. Selalu cium pada mereka yang saya dapati, setiap kali cucu cucu beliau menemani beliau di kamar remaja saya dulu. Ya kamar bercat biru yang menemani hidup saya dan berada dipojok belakang, kini menjadi kamar kesayangan beliau. Tempat beliau menghabiskan masa masa istirahat siang, sambil menikmati suguhan ceramah pak kosim nurseha dan irama keroncong masa lalu. Ya, kamar itu tak berbeda jauh dari semenjak saya tinggalkan. Bahkan dengan bangga ayah memberi tahu, bahwa jas jas universitas yang menemani saya di kampus, masih berada di tempat yang dulu. Demikian pula buku literatur yang menemani malam malam pembuatan skripsi strata satu, masih tertata rapih di tempat asalnya.
Ah ayah, saya teramat tahu, betapa ayahanda selalu merindukan putri satu satunya. Namun hal itu tak pernah beliau ucapkan selama saya di perantauan. Ia teramat tahu, kata kesedihan yang beliau ucapkan, akan amat membuat diri putrinya bersedih hati. Sebelum berpisah, saya sengaja meniatkan untuk membersihkan serta merawat telapak kakinya dengan basuhan air hangat dan sabun wangi. Ah ayah, sedihnya hati ini melihat betis kiri ayah menjadi agak membesar akibat kadar asam urat yang makin meninggi. Walau dengan langkah kaki yang berat, ayah tetap menemani kepergian kami hingga di bandara. Dan saya berjanji pada ayah, di tahun depan, saya akan kembali. Tahun depan, saya akan kembali membasuh telapak kaki ayah dan merawatnya hingga makin bersih dan wangi. Saya berjanji belajar memotong rambut laki laki, agar saya tak hanya dapat menyisir rambut ayah, tapi juga memotongnya sesuai dengan harapan ayah ketika saya kuliah dulu. Nanda berjanji ayah. Nanda akan kembali datang pada ayah.
Kala purnama bersinar di 23 bulan yang lalu,
saya kembali tanpa kekasih menjalani 13 jam perjalanan di Singapore Airlines dengan dua cucu ayah. Ayah di rumah sakit. Sebenarnya sudah hampir setengah bulan kondisi gula darahnya tak menentu. Alhamdulillah saat itu ada adik tercinta memang telah berniat menggunakan liburnya untuk menemani ayah bunda di indonesia. Karenanya di tiap hari percakapan jarak jauh di telefon genggam bunda, ayah selalu mengatakan ia akan baik baik saja. "Ayah akan sembuh in. Seperti sembuhnya ayah dulu ketika iin pertama kali jauh meninggalkan ayah..telefon ayah saja di tiap hari, agar bunda tak merasa sendiri" selalu kata yang sama beliau ucapkan tiap kali saya menghubunginya di tiga kali tiap harinya. Hingga datang permintaan dari adik tercinta, yang meminta agar kami semua anaknya cepat terbang kembali ke kampung halaman, "Kondisi ayah sepertinya semakin memburuk" ucap adik tercinta yang amat mengangetkan saya. Pun hingga detik tersebut, sama sekali tak ada ucap dari ayah bunda untuk meminta kami ke indonesia, karena bunda tetap optimis dan berikhtiar lewat jalan panjang ibadah ibadah malamnya. Bunda yakin ALloh akan memberikan keputusan yang terbaik buat ayah. Namun saya mengerti, saya harus sesegera mungkin menjumpai beliau. Saya tak ingin ada tangis penyesalan bila terjadi suatu hal yang menyedihkan. Semua persiapan sidang akhir saya tinggalkan. Biarlah hal itu hilang bila memang itu takdirMu. Menjumpai ayah bunda sesegera mungkin adalah satu tujuan akhir yang terpikirkan. Saya harus sesegera mungkin memberikan bantuan moril pada bunda, dan menemani ayah menjalani masa masa sakitnya, yang pasti mengharapkan kehadiran anak cucu tercinta.
Dan 13 jam ini sabar saya lewati. Sepanjang malam sambil menemani dan mengawasi kedua cucu ayah yang terlelap tidur, saya berdoa dan lirih berkata "Ya ALloh, bila kesembuhan adalah baik bagi beliau, berikanlah ayahanda kesembuhan. Namun bila kiranya perjumpaan denganMu adalah satu putusan yang terbaik buatnya, maka insya allah hamba akan belajar bersabar menerimanya". Tepat selasa malam, saya sampai di kampung halaman. Segera saya menuju ke rumah sakit dengan menggunakan ojek, sebagai satu satunya alternatif mengatasi kemacetan. Hembus angin malam yang mencekam terlupakan oleh saya. Sambil mendekap cucu ayahanda yang masih berusia 1 tahun 1 bulan, saya jalani perjalanan ke rumah sakit dengan hati yang tak menentu. Di gerbang rumah sakit, terdengar panggilan suara yang saya kenal "Mbak In.." ucap adik satu satu saya, yang langsung memeluk erat mbak dan ponakannya. Ah, adikku betapa waktu lima tahun telah merubah dirimu. Saya kecup dahinya..ah betapa saya rindu padanya. Kami bergandengan tangan menyusuri gerbong gerbong di rumah sakit untuk menuju kamar ICU, tempat ayah bunda berada.
Di muka pintu ICU, terlihat murid murid bunda beserta para istri dan suaminya, yang dengan setia menemani bunda selama hidup berjauhan dengan anak anaknya. Murid murid bunda yang sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga, yang teramat setia mengurusi segala keperluan ayah bunda, dari makanan hingga pakaian bahkan sampai jaga malam (semoga ALloh selalu membalas kebaikan mbak dan mas sekalian, amin). Di kamar itu, terbaring ayah yang alhamdulillah masih sadar, dan bahkan terlihat segar dengan gemuk putih bersih di badannya. Hanya tusukan jarum dan infus yang menandakan beliau sedang sakit. Bunda terlihat letih, namun sabar dan senyum yang menghiasi wajahnya bagaikan cermin keoptimisan dan kepasrahan beliau terhadap keputusan Robbnya. Ya, ayah terlihat gemuk dan bersih di banding di awal tahun ini ketika saya mengunjungi beliau. Mata ayah berkaca bersinar melihat kehadiran saya di sisinya. Ketika mencium dahi saya, jatuh tetes air mata yang jarang ia tampakkan. Tetes air mata ini membasahi pipi dan kerudung saya. Ayah menangis. Kebahagiaan makin terlihat di binar matanya ketika tepat jam 11 malam datang emas saya yang telah beliau tunggu tunggu kehadirannya.
Semalaman itu, kala purnama juga bersinar di balik pohon jambu yang ada di pojok halaman, kami putra putrinya bergantian menemani ayah, sambil menjalin cerita cerita dahulu yang pernah kami lewati bersama. Ayah yang tak dapat jelas berbicara karena adanya selang yang di pasang di mulut beliau, tetap dapat menikmati cerita cerita yang saya tuturkan. Cerita ketika saya kecil, dimana beliau dengan setia mengelus punggung saya menjelang saya pergi ke peraduan. Bahkan beliau meminta pada saya untuk memeluknya serta meletakkan kepala saya di bahu bidangnya. Ayah kembali mengelus elus kepala dan punggung saya, sebagaimana elusan yang pernah saya rasakan semasa saya kecil dulu. Ayah tak henti hentinya meminta pada saya untuk disenandungkan beberapa surat al qur'an yang beliau hafal. Di malam itu kami putra putrinya memutuskan untuk memindahkan ayahanda ke rumah sakit yang kami anggap lebih profesional. Setelah mendapat masukan dari banyak sahabat, akhirnya kami memutuskan untuk memindahkannya ke pavilliun di RSCM.
*)My Page





