Kala Purnama Bersinar...(I)
Tuesday, August 03, 2004
Rasa rindu 'kan makin mendera,
Bila kita tak lagi dapat berjumpa.
Rasa bersalah 'kan makin mencambuk,
Kala kita tak dapat membayar kesalahan yang telah terpuruk.
Kala purnama bersinar di 27 tahun yang lalu,
kami baru saja pindah ke kota tempat kami dibesarkan. Ayah menghadiahkan pada kami keluarganya, sebuah rumah di pelosok kota. Rumah mungil yang terletak di daerah sejuk sepi. Rumah yang menjadi salah satu contoh dari perumahan nasional pertama, yang baru saja diresmikan oleh menteri perumahan republik indonesia. Kala itu, masih sedikit yang tertarik untuk tinggal di sana. Ya, hanya para wartawan dan bapak ibu guru, yang bersedia menempati perumnas dengan halaman yang cukup luas. Terlalu sepi dan sulit transportasi, demikian alasan handai dan taulan, yang menolak halus ajakan kami untuk memulai hidup baru tempat itu. Tempat yang sehat untuk kami tumbuh mandiri. Iklim bersih dan asri walau teramat sepi. Bahkan kabut dan embun hadir di tiap pagi. Menemani kami kala memandang dari kejauhan, lewatnya kereta bogor jakarta, tepat jam 6 pagi. Depok, itulah kota kami.
Kala purnama bersinar di 24 tahun yang lalu,
di dinihari yang masih dingin. Ayah sering mengajak saya ataupun bunda serta emas tercinta untuk berjalan di malam hari. Hanya sekedar untuk membelikan bunda makanan di penjual pinggiran jalan yang ada di seberang kompleks perumahan. Tak lain untuk mengatasi rasa lapar yang menyengat, atau hanya sekedar memenuhi rasa ngidam bunda, mengingat bunda sedang diamanahkan di rahimnya, adik saya satu satunya. Sambil menikmati sinar purnama yang keemasan, kami bersama menyusuri jalan. Juga sembari menanti kehadiran para penjual buah buahan di pertigaan jalan, yang biasanya baru mengantarkan dagangannya dari kampung kampung nun di pelosok sana di pagi buta. Durian, nangka, cempedak, kecapi ataupun gohok, kadang sudah menjadi buah tangan sebelum kami pulang menuju rumah. Setelah sholat shubuh berjamaah di setengah lima, kami diperkenankan sekedar tidur satu dua jam, sebelum menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
Kala purnama bersinar di 20 tahun yang lalu,
seringkali saya lewatkan masa masa itu tanpa kehadiran ayah di sisi. Beliau yang seorang pekerja keras, biasanya harus mengorbankan waktu waktu dengan anak anak yang ia cinta, hanya sekedar untuk menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Untuk harus bepergian ke luar kota, bahkan kadang sampai ke luar pulau jawa. Dan tiap kali purnama mulai menampakkan sinarnya tanpa keberadaan ayah tercinta di rumah, tiap kali pula muncul rasa rindu menusuk untuk bertemu dengannya. Hanya doa ajaran bunda yang mengobati kerinduan ini, yang beliau ajarkan sejak kecil kami. Lantunan doa yang kami selalu ucapkan menjelang tidur ke peraduan "Ya ALloh selamatkanlah ayah dalam tugas. Dan berhasilkanlah usahanya. Ya ALloh, selamatkanlah kami sekeluarga, di dunia dan di akhirat. Amin".
Melalui kaca jendela kamar, kadang saya menatap bulan untuk beberapa lama. Dan menanyakan ke diri sendiri, mungkinkah ayahanda memandang bulan yang sama, di tempat kini ia berada. Bila mata tak tertutup jua, kadang saya naiki pohon belimbing di halaman belakang, untuk naik ke atap rumah. Tuk sekedar menatap sang purnama di langit luas, serta memandang bintang dan cakrawala yang masih terlihat bersih dan jelas, sambil membisikkan doa..semoga ayah selamat dalam tugas dan berhasil usahanya. Semoga keluarga kami, selalu dalam kasih sayangNya, di dunia dan di akhirat.
Kala purnama bersinar di 18 tahun yang lalu,
ayah mengajak kami sekeluarga untuk bepergian menyusuri jalur kereta di sepanjang pulau jawa, dari bandung hingga surabaya. Ditambah dengan perjalanan bis tujuan banyuwangi, bahkan hingga ke pantai kuta. Selama perjalanan pergi dan pulangnya, selalu terpancar jelas di dua matanya; betapa ia menyayangi dan mencintai kami sepenuh hati. Walau kadang tak muncul dalam bentuk ucapan dan bisikan kata. Namun kami dapat membaca jelas di tiap detik perbuatannya. Teringat jelas ketika saya menikmati keberadaan ayahanda di pantai kuta. Dipangku dalam duduknya, sambil menatap perginya sinar emas matahari ke peraduan. Serta menanti datangnya purnama di tengah debur suara ombak meninggi, yang ditemani kicau burung malam yang beterbangan.
Kala purnama bersinar di 13 tahun yang lalu,
ayah dengan tegar melepas kepergian emas saya, untuk sekedar mengais ilmu di negeri sakura. Walau tetap terlihat jelas di matanya, ada rasa sedih yang muncul lewat basah bola mata yang tetap beliau tahan hingga tak jadi air mata. Pun ketika memeluk dan mengantarkan putra pertamanya, hingga jendela terakhir bandara. Di perjalanan pulang muncul purnama, dan saat itu beliau nasehati kami dua anaknya yang tersisa, bahwa kami harus keras berusaha bila ingin menggantungkan cita cita. "Kalian tidak berasal dari keluarga yang amat berada, karenanya rajin belajar dan berusaha, bila kalian ingin seperti emasnya" itu kata penutup yang saya dengar sebelum saya berpamitan menuju ke peraduan.
Kala purnama bersinar di delapan tahun yang lalu,
ayah baru saja pertama kali harus masuk rumah sakit, karena kondisi gula darahnya tak stabil. Saat itu juga purnama, dan saya menangis bersunggukan di kamar rumah sakit karena saya tak ingin berpisah meninggalkannya. Walau hanya dalam hitungan 5 purnama dan masih berada di sekitar asia. "In, jangan khawatirkan ayah. Insya allah ayah akan baik nantinya. Jangan sia siakan hasil dari usaha yang telah iin lakukan. Banyak yang kan kecewa bila iin menampik kesempatan berharga, termasuk ayah dan mamah juga. Insyaallah ayah akan sembuh dan akan kembali ke rumah" kata beliau pada saya sambil menghirup oksigen yang ada di tabung biru kamarnya. "Telefon ayah tiap minggu, itu saja yang ayah minta" ucapnya tegar walau pucat terlihat ada di dua kelopak matanya. Saya tetap tahu, ia sedih melepaskan saya, putri satu satunya. Dapat saya baca lewat binar basah bola mata, yang sekali lagi..., tak beliau tuangkan jadi tetesan air mata. Dengan tangis yang tak kunjung reda, saya masuk ke bandara. Sambil tak lupa kembali mendengar suara ayahanda melalui telefon yang ada di ruangan check in di terminal dua. Dalam perjalanan pertama kali di udara ketika saya dewasa, tak kunjung usai linang air mata dan doa mengiringi saya. Doa yang saya lantunkan sambil menatap lirih kelembutan awan di samping jendela. Di lima purnama, saya setia mengunjungi ayahanda lewat telefon di lantai dasar dormitory. Dan alhamdulillah, kondisi ayah semakin baik, sesuai dengan janji beliau pada saya. Makin lengkap kebahagiaan yang saya rasakan, ketika bunda mengabarkan, bahwa ayahanda menerima pinangan yang datang dari orang tua calon menantunya. Ayahandapun menerima dengan baik, permohonan yang calon menantunya haturkan, walau dari seberang benua. Sayapun tak sabar menjumpai ayah, hanya untuk mengetahui kondisinya. Karenanya saya memutuskan untuk pergi sebentar ke kampung tercinta di sela liburan pendek yang ada. Hanya sekedar untuk menikmati ciuman di dua tangan ayahanda dan melihat kebahagiaan yang ada di kedua matanya: anak wanita satu satunya, akan memasuki alam kehidupan yang sesungguhnya!
Kala purnama bersinar di tujuh tahun yang lalu,
saya sibuk menyiapkan pakaian buat ayah untuk menghadiri hari kululusan saya. Sempat terjadi pertikaian, hanya dari sekedar beda selera dari jas yang akan dikenakan oleh ayah (Maafkan hamba ya ALloh, hamba tak bermaksud melukai hatinya). Dan seperti biasa, beliau pun kembali memaafkan saya. Tanpa kata dan ucapan. Hanya binar matanya yang bersinar di pagi hari wisuda, yang jadi pertanda ia telah melupakan kesalahan saya. Ah, ayah kini sudah semakin tua. Makin terlihat jelas dengan munculnya setengah bagian berwarna putih di sela rambut hitamnya. Saya sisiri rambutnya dengan kasih, semoga ia mengerti, betapa saya amat menyesali perlakuan saya kemarin hari. Dan kembali terlihat binar kebanggaan di kedua matanya, saat saya menghadiahkan pada beliau, tiga penghargaan utama. Beliau tak berkata kata, namun kebanggaannya dapat saya baca lewat meja pojok yang ia belikan, khusus untuk meletakkan trophi hadiah saya buatnya. Di purnama di tahun ini, ia pun kembali dengan ikhlash melepas kepergian saya ke seberang benua. "Temani menantu ayah dengan sebaik baiknya dan gantungkan cita cita iin setinggi langit" ucapan akhir yang saya dengar ketika beliau memeluk saya di pintu check in bandara. Kata kata yang sama persis beliau bisikkan ketika saya menciumnya setelah akad nikah di bulan dua di tahun ini. Kembali air mata deras yang menemani perjalanan saya 13 jam seorang diri. Sedih yang tak terkira karena harus berpisah sedemikian jauh dari ayah dan bunda tercinta, namun bercampur dengan rasa gembira karena akan kembali jumpa kekasih yang telah delapan bulan tak bersua.
kami baru saja pindah ke kota tempat kami dibesarkan. Ayah menghadiahkan pada kami keluarganya, sebuah rumah di pelosok kota. Rumah mungil yang terletak di daerah sejuk sepi. Rumah yang menjadi salah satu contoh dari perumahan nasional pertama, yang baru saja diresmikan oleh menteri perumahan republik indonesia. Kala itu, masih sedikit yang tertarik untuk tinggal di sana. Ya, hanya para wartawan dan bapak ibu guru, yang bersedia menempati perumnas dengan halaman yang cukup luas. Terlalu sepi dan sulit transportasi, demikian alasan handai dan taulan, yang menolak halus ajakan kami untuk memulai hidup baru tempat itu. Tempat yang sehat untuk kami tumbuh mandiri. Iklim bersih dan asri walau teramat sepi. Bahkan kabut dan embun hadir di tiap pagi. Menemani kami kala memandang dari kejauhan, lewatnya kereta bogor jakarta, tepat jam 6 pagi. Depok, itulah kota kami.
Kala purnama bersinar di 24 tahun yang lalu,
di dinihari yang masih dingin. Ayah sering mengajak saya ataupun bunda serta emas tercinta untuk berjalan di malam hari. Hanya sekedar untuk membelikan bunda makanan di penjual pinggiran jalan yang ada di seberang kompleks perumahan. Tak lain untuk mengatasi rasa lapar yang menyengat, atau hanya sekedar memenuhi rasa ngidam bunda, mengingat bunda sedang diamanahkan di rahimnya, adik saya satu satunya. Sambil menikmati sinar purnama yang keemasan, kami bersama menyusuri jalan. Juga sembari menanti kehadiran para penjual buah buahan di pertigaan jalan, yang biasanya baru mengantarkan dagangannya dari kampung kampung nun di pelosok sana di pagi buta. Durian, nangka, cempedak, kecapi ataupun gohok, kadang sudah menjadi buah tangan sebelum kami pulang menuju rumah. Setelah sholat shubuh berjamaah di setengah lima, kami diperkenankan sekedar tidur satu dua jam, sebelum menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
Kala purnama bersinar di 20 tahun yang lalu,
seringkali saya lewatkan masa masa itu tanpa kehadiran ayah di sisi. Beliau yang seorang pekerja keras, biasanya harus mengorbankan waktu waktu dengan anak anak yang ia cinta, hanya sekedar untuk menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Untuk harus bepergian ke luar kota, bahkan kadang sampai ke luar pulau jawa. Dan tiap kali purnama mulai menampakkan sinarnya tanpa keberadaan ayah tercinta di rumah, tiap kali pula muncul rasa rindu menusuk untuk bertemu dengannya. Hanya doa ajaran bunda yang mengobati kerinduan ini, yang beliau ajarkan sejak kecil kami. Lantunan doa yang kami selalu ucapkan menjelang tidur ke peraduan "Ya ALloh selamatkanlah ayah dalam tugas. Dan berhasilkanlah usahanya. Ya ALloh, selamatkanlah kami sekeluarga, di dunia dan di akhirat. Amin".
Melalui kaca jendela kamar, kadang saya menatap bulan untuk beberapa lama. Dan menanyakan ke diri sendiri, mungkinkah ayahanda memandang bulan yang sama, di tempat kini ia berada. Bila mata tak tertutup jua, kadang saya naiki pohon belimbing di halaman belakang, untuk naik ke atap rumah. Tuk sekedar menatap sang purnama di langit luas, serta memandang bintang dan cakrawala yang masih terlihat bersih dan jelas, sambil membisikkan doa..semoga ayah selamat dalam tugas dan berhasil usahanya. Semoga keluarga kami, selalu dalam kasih sayangNya, di dunia dan di akhirat.
Kala purnama bersinar di 18 tahun yang lalu,
ayah mengajak kami sekeluarga untuk bepergian menyusuri jalur kereta di sepanjang pulau jawa, dari bandung hingga surabaya. Ditambah dengan perjalanan bis tujuan banyuwangi, bahkan hingga ke pantai kuta. Selama perjalanan pergi dan pulangnya, selalu terpancar jelas di dua matanya; betapa ia menyayangi dan mencintai kami sepenuh hati. Walau kadang tak muncul dalam bentuk ucapan dan bisikan kata. Namun kami dapat membaca jelas di tiap detik perbuatannya. Teringat jelas ketika saya menikmati keberadaan ayahanda di pantai kuta. Dipangku dalam duduknya, sambil menatap perginya sinar emas matahari ke peraduan. Serta menanti datangnya purnama di tengah debur suara ombak meninggi, yang ditemani kicau burung malam yang beterbangan.
Kala purnama bersinar di 13 tahun yang lalu,
ayah dengan tegar melepas kepergian emas saya, untuk sekedar mengais ilmu di negeri sakura. Walau tetap terlihat jelas di matanya, ada rasa sedih yang muncul lewat basah bola mata yang tetap beliau tahan hingga tak jadi air mata. Pun ketika memeluk dan mengantarkan putra pertamanya, hingga jendela terakhir bandara. Di perjalanan pulang muncul purnama, dan saat itu beliau nasehati kami dua anaknya yang tersisa, bahwa kami harus keras berusaha bila ingin menggantungkan cita cita. "Kalian tidak berasal dari keluarga yang amat berada, karenanya rajin belajar dan berusaha, bila kalian ingin seperti emasnya" itu kata penutup yang saya dengar sebelum saya berpamitan menuju ke peraduan.
Kala purnama bersinar di delapan tahun yang lalu,
ayah baru saja pertama kali harus masuk rumah sakit, karena kondisi gula darahnya tak stabil. Saat itu juga purnama, dan saya menangis bersunggukan di kamar rumah sakit karena saya tak ingin berpisah meninggalkannya. Walau hanya dalam hitungan 5 purnama dan masih berada di sekitar asia. "In, jangan khawatirkan ayah. Insya allah ayah akan baik nantinya. Jangan sia siakan hasil dari usaha yang telah iin lakukan. Banyak yang kan kecewa bila iin menampik kesempatan berharga, termasuk ayah dan mamah juga. Insyaallah ayah akan sembuh dan akan kembali ke rumah" kata beliau pada saya sambil menghirup oksigen yang ada di tabung biru kamarnya. "Telefon ayah tiap minggu, itu saja yang ayah minta" ucapnya tegar walau pucat terlihat ada di dua kelopak matanya. Saya tetap tahu, ia sedih melepaskan saya, putri satu satunya. Dapat saya baca lewat binar basah bola mata, yang sekali lagi..., tak beliau tuangkan jadi tetesan air mata. Dengan tangis yang tak kunjung reda, saya masuk ke bandara. Sambil tak lupa kembali mendengar suara ayahanda melalui telefon yang ada di ruangan check in di terminal dua. Dalam perjalanan pertama kali di udara ketika saya dewasa, tak kunjung usai linang air mata dan doa mengiringi saya. Doa yang saya lantunkan sambil menatap lirih kelembutan awan di samping jendela. Di lima purnama, saya setia mengunjungi ayahanda lewat telefon di lantai dasar dormitory. Dan alhamdulillah, kondisi ayah semakin baik, sesuai dengan janji beliau pada saya. Makin lengkap kebahagiaan yang saya rasakan, ketika bunda mengabarkan, bahwa ayahanda menerima pinangan yang datang dari orang tua calon menantunya. Ayahandapun menerima dengan baik, permohonan yang calon menantunya haturkan, walau dari seberang benua. Sayapun tak sabar menjumpai ayah, hanya untuk mengetahui kondisinya. Karenanya saya memutuskan untuk pergi sebentar ke kampung tercinta di sela liburan pendek yang ada. Hanya sekedar untuk menikmati ciuman di dua tangan ayahanda dan melihat kebahagiaan yang ada di kedua matanya: anak wanita satu satunya, akan memasuki alam kehidupan yang sesungguhnya!
Kala purnama bersinar di tujuh tahun yang lalu,
saya sibuk menyiapkan pakaian buat ayah untuk menghadiri hari kululusan saya. Sempat terjadi pertikaian, hanya dari sekedar beda selera dari jas yang akan dikenakan oleh ayah (Maafkan hamba ya ALloh, hamba tak bermaksud melukai hatinya). Dan seperti biasa, beliau pun kembali memaafkan saya. Tanpa kata dan ucapan. Hanya binar matanya yang bersinar di pagi hari wisuda, yang jadi pertanda ia telah melupakan kesalahan saya. Ah, ayah kini sudah semakin tua. Makin terlihat jelas dengan munculnya setengah bagian berwarna putih di sela rambut hitamnya. Saya sisiri rambutnya dengan kasih, semoga ia mengerti, betapa saya amat menyesali perlakuan saya kemarin hari. Dan kembali terlihat binar kebanggaan di kedua matanya, saat saya menghadiahkan pada beliau, tiga penghargaan utama. Beliau tak berkata kata, namun kebanggaannya dapat saya baca lewat meja pojok yang ia belikan, khusus untuk meletakkan trophi hadiah saya buatnya. Di purnama di tahun ini, ia pun kembali dengan ikhlash melepas kepergian saya ke seberang benua. "Temani menantu ayah dengan sebaik baiknya dan gantungkan cita cita iin setinggi langit" ucapan akhir yang saya dengar ketika beliau memeluk saya di pintu check in bandara. Kata kata yang sama persis beliau bisikkan ketika saya menciumnya setelah akad nikah di bulan dua di tahun ini. Kembali air mata deras yang menemani perjalanan saya 13 jam seorang diri. Sedih yang tak terkira karena harus berpisah sedemikian jauh dari ayah dan bunda tercinta, namun bercampur dengan rasa gembira karena akan kembali jumpa kekasih yang telah delapan bulan tak bersua.
*)My Page





