Idealnya Mahasiswa
Monday, August 23, 2004
Tiap sosok manusia selalu teriring dengan hak dan kewajibannya.
Namun sayang kadang kita terlupa.
Kita tuntut hak yang seharusnya ada.
Tanpa merasa bersalah atas gugurnya kewajiban yang tak kunjung terlaksana.
Pagi hari ini saya membaca satu artikel yang menarik di der Spiegel, salah satu majalah yang memiliki oplah terlaris di jerman. Di artikel tersebut di paparkan hasil penelitian yang berkaitan dengan pertanyaan "manakah yang lebih rajin : mahasiswa atau pekerja?". Ternyata dari sample yang diteliti didapatkan temuan hasil yang menarik: rata rata mahasiswa menghabiskan waktu untuk studi dan bekerja sekitar 42-50 jam per minggu sementara pekerja "sesungguhnya" rata rata mengalokasikan waktu 36-40 jam dalam seminggu untuk aktivitas bekerjanya.
Mahasiswa di negara negara bagian bekas jerman timur umumnya lebih sedikit bekerja di banding rekan mahasiswanya yang berada di negara negara bagian bekas jerman barat. Sementara mahasiswa-mahasiswa di Jena dan Dresden (kota di mantan negara jerman timur) menghabiskan waktu 36-40 jam selama satu minggu untuk keperluan studinya, maka rekannya di Bielefeld, Bremen dan Cologne hanya cukup menggunakan 29-31 jam per minggunya untuk bersibuk sibuk kuliah dan "ngendon" di perpustakaan atau diskusi bersama Kommilitonen-nya. Sebaliknya mahasiswa di tiga kota tersebut rata rata menghabiskan waktu sebanyak 10 jam per minggu untuk bekerja lepas. Suatu jumlah dua kali lipat jumlah jam kerja yang digunakan rekan mahasiswa mereka di negara negara bekas jerman timur, dimana mereka cukup menggunakan waktu 5 jam per minggunya untuk "jobben" di akhir minggu.
Bagaimana dengan mahasiswa mahasiswa Indonesia?. Di sini saya tidak berusaha membahas tentang perbandingan tingkat kerajinan mahasiswa vs pekerja. Saya hanya tertarik untuk mengetahui kondisi aktivitas mahasiswa di indonesia. Manakah yang perlu dilakukan selama seseorang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa? Bagaimanakah tipikal mahasiswa yang baik?. Apa saja dan nilai nilai yang manakah, harus saya siapkan agar yusuf, yahya dan fathima dapat melalui masa studi mereka, yang nantinya akan memberikan manfaat bagi kehidupan mereka di masa datang?.
Dari pengalaman yang saya pernah lalui selama menjadi mahasiswa, aktivitas bekerja selama masa studi adalah hal yang tidak umum dilakukan (minimal di kampus bougenville kami). Entah karena mayoritas teman teman saya mungkin telah tercukupi biaya studinya melalui sponsor orang tua, atau mungkin telah "di- nina-bobokan" dana beasiswa yang ada. Sayangnya saya termasuk salah satu dari kategori terakhir. Karenanya dunia kampus yang dulu saya rasakan hanyalah di seputar kuliah, kegiatan kampus, senat, rumah dan kegiatan tipikal mahasiswa lainnya (baca: tidak bernilai ekonomis). Walau kebutuhan studi telah terpenuhi dengan adanya sumber sumber kucuran dana hasil seleksi indeks prestasi, entah mengapa tetap ada satu hal yang hilang dan kurang yang saya rasakan. Perasaan ini pun tetap menggelayuti hingga hari kelulusan saya di agustus 1997.
Pola pikir bahwa dunia mahasiswa hanya berkisar di dunia kampus, organisasi dan rumah, menurut hemat saya memang sudah tidak lagi sesuai di zaman yang kaya akan kompetisi ini. Secara pribadi, hal tersebut saya rasakan kurang cukup untuk mengantarkan seorang mahasiswa memasuki dunia yang sesungguhnya. Tanpa adanya "pelajaran" tentang mahalnya harga sebuah "waktu" dan nilai nilai yang menyertainya (termasuk nilai ekonomis tentunya), sepertinya seorang mahasiswa tidak dilatih untuk siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan "bantingan" dan "ujian". Tanpa merasakan bahwa waktu yang kita miliki amatlah terbatas dan setiap detik adalah berharga, maka kita tak dilatih melakukan prioritas kegiatan yang tepat. Tanpa mengetahui bahwa proses mencari kerja adalah hal yang sulit dan dapat membuat frustasi, maka kita tak terlatih untuk bersabar, berikhtiar dan tak mudah putus semangat. Tanpa mengalami bahwa mendapatkan nilai nominal uang adalah hal yang tak mudah, maka kita tak terlatih untuk menghargai uang dan mengatur dengan baik keuangan yang ada. Tanpa belajar mengetahui celah celah kegiatan yang dapat membawa manfaat (khususnya yang dapat mendatangkan finansial), maka kita tidak terlatih untuk kreatif dan memiliki nalar layaknya seorang wirausaha.
Ah, bukan berarti saya tak mensyukuri kehidupan yang telah berlalu. Namun tentu mimpi seluruh orang tua agar dapat mendidik putra putrinya lebih baik dibandingkan pendidikan yang terlebih dahulu kita peroleh. Terimakasih mama dan ayah yang telah menghadiahkan kehidupan yang kini saya rasakah. Saya berharap dapat mendidik amanah amanah ini sebaik mungkin. Sayapun berdoa agar saya diberikan kekuatan untuk membekali yusuf, yahya dan fathima dengan nilai nilai religi dan kebaikan; kebijakan hidup dan nilai kehidupan; serta.. kasih sayang dan cinta seorang ibu...hingga mereka mahasiswa, bahkan hingga mereka dewasa.
Namun sayang kadang kita terlupa.
Kita tuntut hak yang seharusnya ada.
Tanpa merasa bersalah atas gugurnya kewajiban yang tak kunjung terlaksana.
Pagi hari ini saya membaca satu artikel yang menarik di der Spiegel, salah satu majalah yang memiliki oplah terlaris di jerman. Di artikel tersebut di paparkan hasil penelitian yang berkaitan dengan pertanyaan "manakah yang lebih rajin : mahasiswa atau pekerja?". Ternyata dari sample yang diteliti didapatkan temuan hasil yang menarik: rata rata mahasiswa menghabiskan waktu untuk studi dan bekerja sekitar 42-50 jam per minggu sementara pekerja "sesungguhnya" rata rata mengalokasikan waktu 36-40 jam dalam seminggu untuk aktivitas bekerjanya.
Mahasiswa di negara negara bagian bekas jerman timur umumnya lebih sedikit bekerja di banding rekan mahasiswanya yang berada di negara negara bagian bekas jerman barat. Sementara mahasiswa-mahasiswa di Jena dan Dresden (kota di mantan negara jerman timur) menghabiskan waktu 36-40 jam selama satu minggu untuk keperluan studinya, maka rekannya di Bielefeld, Bremen dan Cologne hanya cukup menggunakan 29-31 jam per minggunya untuk bersibuk sibuk kuliah dan "ngendon" di perpustakaan atau diskusi bersama Kommilitonen-nya. Sebaliknya mahasiswa di tiga kota tersebut rata rata menghabiskan waktu sebanyak 10 jam per minggu untuk bekerja lepas. Suatu jumlah dua kali lipat jumlah jam kerja yang digunakan rekan mahasiswa mereka di negara negara bekas jerman timur, dimana mereka cukup menggunakan waktu 5 jam per minggunya untuk "jobben" di akhir minggu.
Bagaimana dengan mahasiswa mahasiswa Indonesia?. Di sini saya tidak berusaha membahas tentang perbandingan tingkat kerajinan mahasiswa vs pekerja. Saya hanya tertarik untuk mengetahui kondisi aktivitas mahasiswa di indonesia. Manakah yang perlu dilakukan selama seseorang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa? Bagaimanakah tipikal mahasiswa yang baik?. Apa saja dan nilai nilai yang manakah, harus saya siapkan agar yusuf, yahya dan fathima dapat melalui masa studi mereka, yang nantinya akan memberikan manfaat bagi kehidupan mereka di masa datang?.
Dari pengalaman yang saya pernah lalui selama menjadi mahasiswa, aktivitas bekerja selama masa studi adalah hal yang tidak umum dilakukan (minimal di kampus bougenville kami). Entah karena mayoritas teman teman saya mungkin telah tercukupi biaya studinya melalui sponsor orang tua, atau mungkin telah "di- nina-bobokan" dana beasiswa yang ada. Sayangnya saya termasuk salah satu dari kategori terakhir. Karenanya dunia kampus yang dulu saya rasakan hanyalah di seputar kuliah, kegiatan kampus, senat, rumah dan kegiatan tipikal mahasiswa lainnya (baca: tidak bernilai ekonomis). Walau kebutuhan studi telah terpenuhi dengan adanya sumber sumber kucuran dana hasil seleksi indeks prestasi, entah mengapa tetap ada satu hal yang hilang dan kurang yang saya rasakan. Perasaan ini pun tetap menggelayuti hingga hari kelulusan saya di agustus 1997.
Tanya yang tak berjawab ini sayangnya baru saya sadari satu bulan setelah hari kelulusan. Tak lain saat saya mulai aktif di universitas dengan menyandang status sebagai pekerja. Kemandirian dan kebanggaan dalam mendapatkan biaya studi yang berasal dari hasil cucuran keringat sendiri, tantangan menyeimbangkan waktu antara studi-organisasi-rumah-danbekerja, belajar dari guru kehidupan yang keras dan kompetitif, serta jiwa wirausaha yang kreatif: semua itu sayangnya belum sempat saya dapatkan ketika menjalani bangku perkuliahan. Ah, Betapa beruntungnya rekan rekan saya yang lebih dahulu mengalami dan mendapatkan pelajaran tak ternilai ini ketika masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Pola pikir bahwa dunia mahasiswa hanya berkisar di dunia kampus, organisasi dan rumah, menurut hemat saya memang sudah tidak lagi sesuai di zaman yang kaya akan kompetisi ini. Secara pribadi, hal tersebut saya rasakan kurang cukup untuk mengantarkan seorang mahasiswa memasuki dunia yang sesungguhnya. Tanpa adanya "pelajaran" tentang mahalnya harga sebuah "waktu" dan nilai nilai yang menyertainya (termasuk nilai ekonomis tentunya), sepertinya seorang mahasiswa tidak dilatih untuk siap menghadapi kehidupan yang penuh dengan "bantingan" dan "ujian". Tanpa merasakan bahwa waktu yang kita miliki amatlah terbatas dan setiap detik adalah berharga, maka kita tak dilatih melakukan prioritas kegiatan yang tepat. Tanpa mengetahui bahwa proses mencari kerja adalah hal yang sulit dan dapat membuat frustasi, maka kita tak terlatih untuk bersabar, berikhtiar dan tak mudah putus semangat. Tanpa mengalami bahwa mendapatkan nilai nominal uang adalah hal yang tak mudah, maka kita tak terlatih untuk menghargai uang dan mengatur dengan baik keuangan yang ada. Tanpa belajar mengetahui celah celah kegiatan yang dapat membawa manfaat (khususnya yang dapat mendatangkan finansial), maka kita tidak terlatih untuk kreatif dan memiliki nalar layaknya seorang wirausaha.
Ah, bukan berarti saya tak mensyukuri kehidupan yang telah berlalu. Namun tentu mimpi seluruh orang tua agar dapat mendidik putra putrinya lebih baik dibandingkan pendidikan yang terlebih dahulu kita peroleh. Terimakasih mama dan ayah yang telah menghadiahkan kehidupan yang kini saya rasakah. Saya berharap dapat mendidik amanah amanah ini sebaik mungkin. Sayapun berdoa agar saya diberikan kekuatan untuk membekali yusuf, yahya dan fathima dengan nilai nilai religi dan kebaikan; kebijakan hidup dan nilai kehidupan; serta.. kasih sayang dan cinta seorang ibu...hingga mereka mahasiswa, bahkan hingga mereka dewasa.
*)My Page





