Kampusku Sayang, Kampusku Malang
Monday, July 05, 2004
Pendidikan adalah kebutuhan,
ia tak murah dan perlu pengorbanan.
Memikirkan perbaikan kualitas pendiidikan di indonesia memang hal yang rumit dan membutuhkan sistem yang menyeluruh untuk memperbaikinya.
Beberapa hal yang saya rasakan masih menjadi kendala dalam memperbaiki sistem pendidikan tingkat tinggi di ind memang ada di seluruh akteur yang terlibat di sistem tsb. Beberapa yang ada adalah motivasi dan kualitas pendidik, standar kurikulum yang digunakan; motivasi mahasiswa serta dukungan pemerintah.
Motivasi untuk benar benar memperbaiki keadaan pendidikan di indonesia yang disertai dengan aksi sayangnya tidak seluruhnya dimiliki oleh pengajar yang terlibat di sistem pendidikan; bisa dikatakan hanya sedikit sekali yang benar2 memiliki tujuan luhur memperbaiki pendidikan yang ada. Pun ada, reward yang diperoleh bisa dikatakan "tidak layak". Akibatnya pengajar sibuk mencari lahan yang dapat digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup yang nota bene harus dipenuhi. Sekedar datang untuk absen (dan selebihnya asisten yang menjalankan pengajaran), "bersarangnya" pengajar di tempat yang lain sehingga jarang berinteraksi dengan mahasiswa serta hal2 sejenis lainnya bahkan makin memperparah keadaan ini.
Bicara tentang kualitas pendidik yang ada kadang juga memprihatinkan, karena memang harus diakui amatlah heterogen variabel tsb. Dosen senior yang notabene banyak memiliki kualitas jempolan kadang malah terlalu sibuk untuk berkecimpung di kampus untuk berdialog intensiv langsung dengan mahasiswa yang haus ilmu. Dosen junior yang ada kadang di keadaan tertentu kurang diberikan kesempatan untuk maju dan berpartisipasi aktif untuk memperbaiki kampus. belum lagi standar yang digunakan untuk mengambil bibit bibit baru pengajar yang tidak
sama.
sama.
Tentang standar kurikulum yang digunakan juga amat menyedihkan. Antar universitas dengan bidang pendalaman yang sama pun tidak bisa diharap kan "keluarnya" sarjana sarjana baru dengan standar yang tidak jauh berbeda. Penemuan penemuan terbaru, khususnya di ranah public health bukan jadi makanan sehari hari yang harus dikonsumsi pengajar ataupun tim revisi kurikulum. Tak heran bila mahasiswa tidak pula terbiasa mengikuti perkembangan terbaru yang ada di bidangnya serta kritis terhadap penemuan penemuan yang ada (baik baru ataupun yang telah lewat).
Belum lagi ditambah motivasi mahasiswa menjalani perkuliahan yang beraneka ragam. Sekedar datang untuk menjalani kewajiban tanda tangan, rajin kuliah agar dapat meraih gelar dengan nilai minimum, ataupun mengerja kan tugas hanya sekedar untuk mendapat nilai menjadi motivasi yang sering ditemui. Jjarang sekali dapat ditemukan mahasiswa yang menekuni bidang keilmuannya dg "cinta" tanpa melupakan kewajiban yang ia harus juga lakukan sebagai mahasiswa.
Keadaan ini makin di perparah dengan dukungan yang amat minimum dari pemerintah di sektor ini. penelitian (baca: yang benar benar ditujukan utk pengembangan ilmu) yang menjadi jantung kehidupan kampus sulit terlaksana karena tak adanya anggaran. Belum lagi fasilitas fasilitas kampus yang menyedihkan; perpustakaan yang tak memberikan "kenyamanan " pada mahasiswa dengan koleksi buku serta ruang yang terbatas, komputer dengan jumlah dan teknologi minimum, laboratorium yang tak lengkap, perbandingan maksimum mahasiswa dan pengajar serta hal hal lain yang berkaitan juga menjadi salah satu kendala sulit tercapainya perbaikan kualitas yang ada.
Dapatkah keadaan ini diperbaiki? jawabannya jelas: dapat, namun memang tak mudah. Diperlukan mutlak kerjasama semua pihak yang terlibat di dunia pendidikan tinggi. Dengan profesionalitas, hati dan pemikiran yang "bening" serta keinginan tulus untuk memperbaiki keadaan pendidikan, saya pikir merupakan langkah awal yang dapat dilakukan.
*)My Page





