<$BlogRSDUrl$>
*)My Page

Dwi Bahasa (Oleh Oleh dari Kunjungan ke Sesepuh Kota)

Monday, July 26, 2004

Bumi pertiwi kan selalu kucinta,
Dimanapun dan kapanpun aku berada,
Tempat tergores kenangan masa kecil yang tak terlupa,
Yang kan selalu mengiringi jalan hidup ku yang tersisa.

Baru baru ini di salah satu mailing list yang saya ikuti sedang ramai ramainya dibicarakan masalah bilingual learning buat anak anak, khususnya pada anak usia sebelum sekolah dasar. Memang banyak sekali akhirnya tips tips mengalir, entah itu berupa teori, karya ilmiah, survey, dan hal hal yang sejenis lainnya berkaitan dengan hal tersebut. Terus terang, saya yang baru berstatus sebagai ibu pemula, masih belum saja menemukan metode yang "pas" di hati saya. Karenanya "mumpung" anak anak kami masih belum dibilang besar, saya selalu berusaha meng up to date informasi berkaitan. Sehingga saya tidak sampai terlambat memutuskan metode yang mana cocok bagi putra putri kami dari "trial and error" yang dilakukan.

Beberapa saat yang lalu salah satu rekan di milis juga mengirimkan salah satu referensi berkaitan yang ditulis oleh Nadine lichtenberger, seorang wanita berkebangsaan amerika yang menikah dengan pria austria, dan kemudian menetap di sana. Ia menceritakan suka duka mencari metode yang sesuai dengan keluarganya dalam menjalankan Bilingual Learning ini. Uraiannya taktis, praktis dan menarik. Mungkin karena ia langsung menuliskan hasil pengalaman yang ia jalani, bukan dari hasil survey atau studi literatur yang kadang malah membuat pusing kepala (..maklum, saya senang sekali dengan yang praktis-efektif).

Kembali ke subyek title posting kali ini, saya juga ingin menceritakan "oleh oleh" yang saya dapatkan dari kunjungan ke akhir minggu ke keluarga salah satu sesepuh di kota kami (lihat posting Pergi Ke Rumah Pak De Bu De di sini). Beliau telah tinggal di negara ini sejak jerman masih belum bersatu, dan kini telah memiliki putra yang telah di Gymnasium. Terus terang saya salut dan kagum pada anak beliau yang walaupun pria 15 th, lahir di negara ini, namun masih fasih sekali berbahasa jawa, indonesia serta memegang nilai nilai ke timuran, keagamaan plus berprestasi pula di sekolahnya(info tambahan: istri beliau juga orang indonesia).

Sebagai senior yang lebih banyak memiliki pengalaman dalam mendidik anak di alam eropa, maka saya banyak berkonsultasi dengan beliau termasuk meminta saran pada beliau berkaitan dengan masalah mendidik anak di iklim eropa pun masalah dwibahasa ini.

Beliau hanya menceritakan pengalaman mendidik anaknya serta beberapa contoh dari kasus keluarga (anonim) yang bisa dijadikan pertimbangan bagi kami untuk memutuskan metode yang "cocok". Hasil pembicaraan dengan beliau memang sengaja saya akan tampilkan, dengan harapan semoga para ibu ibu yang lain berkenan membagi pengalamannya pada saya yang masih berstatus ibu pemula ini.

Beberapa hal yang menarik saya catat di kepala adalah sebagai berikut:

Keluarga Kecil Beliau

Sejak awal ia telah bersepakat dengan istrinya akan menggunakan bahasa jawa dan indonesia sejak si anak lahir di rumah. Sebelum anaknya masuk ke Kindergarten tidak ada masalah di perkembangan bahasanya (karena memang ia selalu berbahasa indonesia dan jawa). Masalah muncul ketika si anak masuk Kindergarten karena si anak cenderung menggunakan bahasa jermannya di rumah (memang beliau katakan pada masa awal kosa kata bahasa jerman masih terbatas di banding anak seusianya, namun setelah 1-2 th di TK, kosa katanya sudah sebanyak rata rata anak seusianya..sehingga tidak timbul masalah yang berarti).

Di masa masa sulit tersebut, ia tetap konsisten menggunakan bahasa jawa dan indonesia di rumah. Bila anaknya menjawab dengan bahasa jerman, ia usahakan semaksimal mungkin agar si anak men-switch-nya ke bhs indonesia atau jawa dengan struktur tata bahasa yang baik. Merupakan satu hal yang salah menurut beliau bila orang tua yang berkeinginan agar anaknya tetap dapat berbahasa indonesia namun mendiamkan anaknya menjawab dengan bahasa non indonesia bila pertanyaan yang ditujukan padanya dalam bahasa indonesia. Beliau katakan, di masa itu memang merupakan masa masa sulit karena biasanya anak seumur demikian (kurang lebih seusia anak pertama kami), terlihat mengalami kesulitan. Namun ia mengatakan pada kami " ya harus tega dek..anak anak seusia tsb sedang belajar..memang kadang terselip rasa kasihan melihat anak kita agak berpikir lama untuk menyampaikan aspirasinya dalam bhs indonesia..tapi ke konsistenan harus tetap ada..". Dan ternyata masa masa sulit itu tidak berlangsung lama (1-2 th). Setelah masa itu lewat, anaknya sama sekali tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi dengan menggunakakan bahasa indonesia, jawa ataupun jerman. Ia juga berulang kali menggaris bawahi, bahwa bahasa adalah salah satu "pengikat" si anak dengan tanah airnya, keluarga besarnya di indonesia, kawan-relasinya setanah air, dan yang terpenting orang tuanya yang berasal dari indonesia. Tanpa menguasai bahasa indonesia, si anak tidak akan merasa memiliki identitas sebagai bangsa indonesia sehingga hubungan bathin dengan indonesia semakin lama akan pudar. "Bila saya tidak mendidik anak kami berbahasa indonesia dan jawa, maka kiranya akan tertutup mungkin keinginan dirinya satu saat memiliki keinginan hidup atau mengunjungi indonesia ataupun beristrikan gadis indonesia" demikian tuturnya pada kami.

Menurut beliau, mungkin tidak akan menjadi masalah yang memusingkan bila orang tua telah memutuskan akan hidup selamanya di negara ini, sehingga menggunakan hanya bahasa jerman di lingkungan rumah (lepas dari hubungan emosional dengN Begriff ke indonesiaan). Namun akan muncul masalah yang besar, bila hidup di negara ini merupakan satu kesementaraan ; karena tanpa dasar bahasa indonesa yang baik, jangan berharap dapat mengikuti sistem pendidikan di indonesia dengan mudah. "Apa adik tak sedih bila satu saat adik dan suami memutuskan kembali ke indonesia dan anak anak menolak untuk ikut (bila mereka sudah dianggap dewasa secara hukum)karena lebih merasa terikat di sini dibanding tanah leluhurnya?" demikian tanya retorisnya pada kami. " Ia juga selalu menekankan pentingnya anak dikenalkan perbedaan dirinya dengan teman-temannya; bahwa ia memiliki agama dan bergaris keturunan indonesia. Bila hal tersebut telah ditanamkan semenjak kecil dengan disertai usaha menumbuhkan hubungan akrab antara orang tua dan anak, insya allah anak kita walaupun tumbuh di iklim eropa akan dapat menjadi insan yang baik dan manusia yang memiliki budi pekerti yang diharapkan oleh semua orang tua.

"Kalau saya mempunyai pemikiran, walaupun anak berbahasa indonesia di rumah, bila ia anak yang normal perkembangannya, maka ia akan tetap mampu mempelajari bahasa jerman dengan baik di lingkungan luar rumah, terutama di sekolah. Mengapa? Karena komunitas orang indonesia di sini sangat sedikit. Di sekolahnya ia mau tidak mau harus menggunakan bahasa jerman sebagai bahasa pengantar karena memang tidak ada pilihan lain; dengan demikian perkembangan bahasa jermannya tetap akan baik. Berbeda dengan orang asing yang memiliki komunitas cukup besar di sini. Di sekolah pun mereka memiliki teman yang berbahasa sama dengan bahasa ibunya. Akibatnya mereka akan bercampur komunikasinya, bahkan bukan tidak mungkin lebih prefer menggunakan bahaa ibunya di banding jerman. Akibatnya? Bahasa jerman mereka secara grammatik dan Aussprache hancur..dan kemungkinan itu tipis sekali ditemukan pada anak yang berbahasa indonesia..wes dek.ojo wedi (udah deh..jangan takut)" demikian ia menutup pembicaraan mengenai dwi bahasa ini pada kami.

Keluarga II

Keluarga ini terdiri dari ibu bapak yang berasal dari indonesia dan semua anak mereka lahir di negara ini. Berkeinginan menetap di sini untuk sementara, dan berniat satu saat kembali ke indonesia. Di rumah, orang tua mereka berbahasa jawa dan indonesia, namun anak anak mereka selalu berbahasa jerman. Saat ini mereka sudah di Gymnasium, dan mereka berkeinginan beberapa tahun lagi kembali ke ind. Anak mereka menolak ikut ke indonesia dengan alasan mereka tidak bisa berbahasa indonesia, dan lebih merasa negara ini sebagai tanah airnya.

Keluarga III

Keluarga ini terdiri dari ibu yang berasal dari indonesia, sementara bapak berasal dari jerman (yang sudah lama berseminari di indonesia; sehingga fasih berbahasa indonesia. Semua anak wanita mereka lahir di negara ini dan berkeinginan menetap di sini untuk selamanya. Di rumah, orang tua mereka berbahasa indonesia antar mereka. Anak anaknya secara kesadaran melarang dirinya berbahasa jerman pada orang tuanya dan mendisiplinkan diri berbahasa indonesia pada ibu dan bapaknya; walaupun kadang beberapa pertanyaan yang di ajukan pada bapak mereka dijawab dengan bahasa jerman. Saat ini anak pertama mereka sudah di universitas. Karena kemampuannya berbahasa indonesia yang baik dan benar, maka ia dijadikan salah satu tokoh kunci di universitas dalam pembentukan jurusan ekonomi pembangunan di negara negara asia.

Keluarga IV

Ibu berasal dari indonesia, bapak berasal dari jerman. Sang ibu berbahasa indonesia yang tidak konsisten dengan anak anaknya (baca: ibu bertanya dalam bhs indonesia, sang anak menjawab dengan bahasa jerman), sementara bapak berbahasa jerman pada mereka. Anak anak dibiarkan memilih jawaban dengan bahasa apapun walaupun pertanyaan diajukan dalam bhs tertent. Anak mereka kini sudah di Grundschule, dan amat miskin berbahasa aktif indonesia. Sehingga ia lebih menyenangi berkomunikasi dengan bahasa jerman dan memilih diam bila ada yang berkomunikasi bahasa indonesia dengannya walaupun amat mengerti isi percakapan yang diutarakan. Dan sang anak mereka lebih terikat dg budaya ayahnya di banding budaya ibunya.

Di akhir kunjungan kami di rumahnya, ia kembali menekankan bahwa:
  1. Tujuan dan kesepakatan apa yang ingin dijalankan pada anak adalah hal yang penting dimiliki oleh ibu dan bapak.
  2. Konsisten merupakan satu keharusan karena anak belajar dari kekonsistenan.
  3. Pertimbangan lama waktu tinggal di negara asing adalah salah satu variabel yang harus disertakan dalam menentukan pilihan.
  4. Mendekatkan anak sedari kecil pada komunitas yang beragama (semisal mesjid di mana si anak belajar mengaji dan bergaul dengan teman-temannya yang seagama) adalah modal emas yang dapat membentuk kepribadian anak. Selain itu akan membuat anak merasa bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan dirinya melalui tumbuhnya kesadaran adanya kontrol dariNya.
  5. Tiap keluarga harus menemukan metode yang cocok bagi mereka, karena keadaan tiap keluarga amat khas, sehingga tidak ada teori yang dapat berlaku secara umum. Modifikasi adalah satu kata kunci dalam hal ini.
Saya sendiri (maklum orang tua pemula) hingga kini masih mencari metode yang tepat dalam menjalankan program dwi bahasa ini. Sudah beberapa metode saya " trial and error", namun sayang hingga kini saya belum menemukan metode yang membuat hati saya, istilah orang jawa, "sreg". " Karenanya saya senang sekali bila ada yang berbaik hati menceritakan pengalaman pribadinya dalam hal ini. Atau adakah tema ini pernah di angkat di forum Blogger Family?.