<$BlogRSDUrl$>
*)My Page

What's Wrong With a Woman ? ( Sekedar Coretan Buat Kaum Pria)

Monday, June 14, 2004

Wanita di jajah pria sejak dulu; dijadikan perhiasan sangkar madu..
namun ada kala pria tak berdaya, bertekuk lutut di bawah kerling wanita..


Tanpa memikirkan lebih jauh makna untaian kata dalam lagu tempo doeloe yang mungkin sudah jarang diketahui oleh generasi muda zaman kini, saya tetap saja senang mendengarkan alunan nada yang terdapat di senandung irama tersebut. Tak pernah basi untuk didengar, walau mungkin sudah beribu kali (atau mungkin belasan ribu?) irama tersebut masuk ke kedua kuping saya.

Benarkah wanita di jajah pria ?
Mungkin memang di beberapa kalangan masyarakat, kondisi ini dapat secara sengaja dan tak sengaja dijumpai. Namun terus terang saya tidak berusaha untuk membahasnya dari kacamata sosiologi ataupun demografi. Karena hal itu terlalu luas untuk dibahas dan diamati. Saya lebih tertarik untuk mengamati fenomena ini dalam kehidupan yang saya amati di keseharian saya. Itupun dengan catatan bahasan yang akan saya ulas mungkin tidak akan berlaku pada kondisi, tempat dan waktu yang berbeda. Jadi anggaplah apa yang akan saya tuangkan tak lain coretan saya yang tidak mutlak kebenarannya.

Benarkah wanita di jajah pria?
Beberapa saat yang lalu saya sempat membaca di rubrik majalah wanita ttg keluhan seorang wanita. Wanita tersebut yang juga seorang akademisi mengatakan bahwa setelah lahirnya buah2 hatinya, ia merasa dirinya berfungsi tak lebih sebagai ibu bagi anak anaknya namun tak lagi merasa menjadi partner bagi suaminya. Partner dalam artian yang utuh sebenarnya. Walaupun ia tetap berusaha merasa berbahagia di perjalanan pernikahannya, namun ia tetap merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam jiwanya. Hilangnya keromantisan yang dahulu mengisi masa awal2 pernikahannya. Hilangnya sapa tegur manis yang menyirami taman perasaan hati. Hilangnya ucapan ucapan cinta dan terimakasih atas hal kecil yang biasa dilakukan. Hilangnya perasaan di sayang dan dilindungi di keseharian rutinitas yang ia lakukan. Apakah pria memang selalu demikian, demikian tanyanya di akhir keluh kesah yang ia paparkan.

Di awal masa masa pernikahan, di kala seorang wanita dapat memiliki "utuh" suaminya, dan suami dapat menikmati waktu berlama lama berdua dengan sang istri, mungkin keluhan tersebut akan relatif jarang muncul. Dunia terasa indah berbunga. Namun sayangnya keindahan perkawinan yang semestinya bertahan lama dan seharusnya makin indah berbunga seiring dengan bertambahnya hitungan lama pernikahan, kadang dapat pupus akibat beberapa hama yang ada, seperti rutinitas,egoistis dan tak mampunya menempatkan prioritas. Belum lagi bila anak anak telah hadir dalam kehidupan seorang suami istri. Di satu sisi kehadiran wujud cinta umumnya akan membahagiakan mereka berdua, namun bersamaan dengan itu harus makin di sadari bahwa dengan siap memiliki anak berarti kita pun harus siap mengurangi waktu untuk diri kita dan menyumbangkan sebagian waktu kita untuk anak, Kinder kosten Zeit!.

Sadarkah kita bahwa kadang kita menjalani hidup hanya sekedar untuk menjalankan rutinitas semata. Mengapa kegiatan yang kita lakukan tak kita selipi niat yang kuat (baca:beribadah) dengan disertai perasaan cinta di dalamnya. Ketika anda memakan hidangan yang telah di masak kekasih anda, bukan lah hal yang sulit bila anda sekedar memuji masakan yang ia hidangkan dengan kata kata manis yang akan makin membuat hatinya berbunga. Ketika ia terlihat sibuk dan terbebani dengan urusan pekerjaan rumah yang tak kunjung usai mengapa anda tidak berusaha membantu sedikit kesibukannya, paling tidak bertanya hal apa yang dapat anda sumbangkan untuk meringankan beban pekerjaannya. Ketika istri anda merencanakan memasak sesuatu yang lain dari biasa hanya sekedar untuk menyenangkan hati anda, mengapa anda tak tampakkan rasa terimakasih anda dengan membantunya serta menghadiahkan ciuman manis di keningnya. Ketika ia sibuk dengan urusan rumah tangga, mengapa anda tak anda usahakan menemani anak anak dan berusaha memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan. Hal hal yang mungkin menurut pria sepele dan tak signifikan, namun percayalah hal itu akan memiliki kontribusi yang besar dalam menyiram tanaman cinta yang telah anda buat bersama. Tak perlulah ku harus katakan aku cinta dia, diapun sudah pasti tahu!, kadang pria memiliki pemikiran yang sedemikian "rasional",sehingga sulit sekali hanya sekedar ntuk mengucapkan "aku sayang kamu" atau sekedar memberikan kecupan di kening sang istri. Padahal semua orang pun sudah tahu, tidak semua hal yang kita lakukan dapat "dibaca" dengan kaca mata yang sama oleh orang lain. Mengapa anda tak mulai membiasakan hal yang kecil kecil untuk menikmati buah cinta yang lebih besar?.

Seperti yang saya telah sitir di atas, dengan hadirnya anak anak di kehidupan pernikahan maka kita harus siap mengorbankan sebagian waktu kita untuk mereka. Kita di sini yang saya maksud adalah suami dan istri, ya anda para suami!. Tak adil bila anda mengharapkan bila hanya waktu istri anda yang harus berkurang untuk "urusan" anak anak, namun andapun harus mengurangi waktu anda sendiri bagi mereka. Mungkin proporsi waktu dapat berbeda, namun kontribusi harus selalu ada. Urusan memberi makan anak, mengganti pampers, menemani bermain, membaca buku atau aktifitas bersama anak lainnya juga harus para suami rutin lakukan. Tentu tidak harus setiap waktu (but: memang hal yang amat baik bila ada waktu rutin utk dikerjakan), namun sesekali penting untuk dilakukan. Aktifitas bersama anak pun jangan diartikan hanya sekedar "mendampingi" di samping anak, tapi lebih dari itu..anda harus hadirkan jiwa anda dalam mendampingi anak; melakukan komunikasi intensif tak hanya sekedar "ya" atau "tidak" sebagai jawaban atas pertanyaan yang anak anda lontarkan. Mengurangi egoisme juga di artikan melakukan atau memikirkan sesuatu dengan menggunakan cara pikir pasangan kita. Juga dapat diartikan berempati dengan apa yang dipikirkan atau dilakukan istri kita. Apakah hal yang kulakukan akan menyenangkan hatinya? Apakah tindakan yang kulakukan dapat membuat hatinya terluka?. Bukankah saya pun tak suka bila istri saya berlama lama di depan komputer padahal ada kerjaan rumah yang harus dilakukan? Bukankah saya kadang satu saat ingin sekedar berjalan jalan keluar rumah untuk melepas letih keseharian saya?. Saya jadi teringat kata manis yang pernah saya baca..cinta artinya memberi, bukan menerima.

Dengan adanya urusan urusan yang harus diselesaikan di perahu rumah tangga, sayangnya kita kadang lupa untuk melakukan prioritas hal mana yang penting untuk dilakukan. Yang ada di benak kita umumnya yang utama semua harus selesai entah bagaimana caranya. Sayangnya kadang hal ini tidak diimbangi dengan kemauan kuat untuk melakukan dengan cepat, bahkan malah membuat kita menunda nunda pekerjaan dengan alasan akan dilakukan pada saat yang tepat. Maka secara tak sengaja kita bukan malah menyelesaikan urusan, tapi bahkan menambah gunung urusan yang harus diselesaikan. Tak heran akhirnya kondisi yang tercipta adalah pertengkaran berkepanjangan ataupun "tampang bete" pada pasangan kita. Dan sayangnya hal tersebut bukan memecahkan masalah tapi menimbulkan masalah yang baru pada hubungan suami istri yang ada. Ketidakmampuan membuat prioritas bukan hanya dapat ditemui di kondisi "penundaan2 pekerjaan" seperti di atas, namun dapat pula didapatkan pada kondisi melakukan semua pekerjaan tanpa rencana. Akibatnya biasanya badan kita letih dan pikiran kita capai dan emosi kita tidak stabil alias mudah marah. Hal ini amat tidak guenstig bagi hubungan perkawinan dan terutama pada perkembangan emosional anak anak. Bukankah lebih penting menemani anak walaupun hanya 10 menit di bandingkan harus mengelap kaca hanya demi agar kaca rumah kelihtan indah dan mengkilap. Bukankah lebih menyenangkan pasangan anda bila anda sekedar dalam hitungan menit bermanja manja berdua dibandingkan berlama lama di depan komputer atau televisi.

Benarkah wanita di jajah pria?
Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Namun memang satu hal yang perlu di catat oleh para pria yang telah memiliki status sebagai seorang suami: Hidup di bawah payung pernikahan dengan wanita memang tidak mudah. Namun jangan jajah dirinya dengan mengurangi haknya sebagai wanita, istri dan seorang ibu. Ia adalah seorang wanita, perlakukan dirinya dengan baik karena ia adalah ibu dari anak anak anda dan mitra kerja yang kan mendampingi hidup anda!