Time Goes So Quickly
Monday, May 31, 2004
Waktu berjalan seiring terbitnya matahari di timur dan tenggelamnya di barat,.
Waktu berputar seiring datang perginya musim semi, panas, gugur dan dingin,
Waktu mengalir seperti aliran hidup manusia; terjadi di rahim suci dan mati untuk hidup kembali di alam nanti!
Entah mengapa, semakin lama saya tinggal di perantauan, maka makin cepat pula saya rasakan waktu berjalan berputar. Mungkin juga ini terasa karena saya selalu disibukkan oleh aktivitas di keseharian saya; entah aktivitas sebagai ibu dimana saya dituntut untuk menjalani kewajiban saya mendidik buah hati kami, memberikan makanan kebutuhan bagi mereka serta memenuhi hak mereka yang ada pada diri saya; sebagai istri di mana saya diharapkan mampu menjalani peran sebagai partner suami dan memenuhi hak suami yang terdapat di diri saya; sebagai anggota masyarakat dimana saya dituntut sedikit banyak menjalankan kewajiban saya sebagai anggota masyarakat dalam menciptakan keadaan masyarakat yang lebih baik; ataupun sebagai studentin yang selalu disibukkan dengan urusan kuliah, buku dan tugas. Maka tidaklah heran bila saya selalu menghadapi satu keadaan yang tak jauh berbeda di setiap hari di tujuh tahun yang saya lalui; sepertinya baru saja saya menghirup udara segar pagi dan kicauan burung yang membangunkan saya dari mimpi, tiba tiba saya disadarkan bahwa sinar mentari akan segera pergi dan gelap selimut malam telah tiba kembali.
Kadang sayapun tidak begitu menyadari bahwa dari tahun ke tahun umur saya pun melaju bertambah, dan anehnya saya pun baru menyadari bahwa diri saya makin bertambah tua bila saya memandang ketiga anak anak kami. Betapa mereka tumbuh berkembang dengan cepat dan kadang tanpa kami sadari. Putra saya pertama tak lama lagi akan masuk sekolah dasar, padahal rasanya baru kemarin saja dia setia tidur di meja kuliah dan menemani keseharian ibunya di universitas. Hampir lima tahun yang lalu kejadian itu terjadi, dan kini ia telah menjelma menjadi pemuda kecil yang dapat saya andalkan untuk sekedar membantu keseharian saya; dari hanya membantu untuk menemani adik2nya bermain hingga sekedar berbelanja roti di toko roti di lingkungan pemukiman kami. Putra kedua saya pun tak henti hentinya membuat saya terkesima. Sepertinya baru beberapa saat yang lalu ia rela saya gendong mondar mandir rumah- perpustakaan untuk menemani saya mencari literatur thesis; kini bahkan ia telah mampu mengendarai sepeda roda dua yang ia kayuh dengan kedua kakinya dengan lihainya, ia bahkan mampu menjadi sekedar badut kecil untuk memancing tawa dan senyum adiknya. Demikian pula yang saya alami dalam mengamati putri saya terkecil; sept yang lalu ia baru saja dilahirkan dan di bulan mei tahun ini bahkan ia telah mampu berdiri dan berjalan sambil berpegangan di sisi sisi dinding rumah kami sambil tertawa gembira..Ah..betapa saya telah menjadi tua..
Ya betapa waktu amat berjalan dengan cepat. Karenanya memang kebenaran yang amat absolut bila Tuhan selalu mengingatkan kita manusia yang naïf agar bijak menggunakan waktunya; karena hari kemarin tak akan pernah terulang dan saat ini tak akan tiba kembali di masa datang. Maka tak heranlah bila masing masing jiwa akan dimintakan pertanggung jawaban atas investasi waktu yang telah ia pergunakan, karena memang waktu amatlah berharga dan tak ada manusia yang mengetahui lamanya waktu yang ia dapat pergunakan di dunia.
Semoga Tuhan selalu membimbing saya untuk makin bijaksana menggunakan anugrah waktu dariNya serta memberikan kesadaran bagi saya untuk makin menyadari bahwa hidup saya di dunia hanya tinggal hitungan waktu yang tak akan pernah saya ketahui berapa lamanya..
Kadang sayapun tidak begitu menyadari bahwa dari tahun ke tahun umur saya pun melaju bertambah, dan anehnya saya pun baru menyadari bahwa diri saya makin bertambah tua bila saya memandang ketiga anak anak kami. Betapa mereka tumbuh berkembang dengan cepat dan kadang tanpa kami sadari. Putra saya pertama tak lama lagi akan masuk sekolah dasar, padahal rasanya baru kemarin saja dia setia tidur di meja kuliah dan menemani keseharian ibunya di universitas. Hampir lima tahun yang lalu kejadian itu terjadi, dan kini ia telah menjelma menjadi pemuda kecil yang dapat saya andalkan untuk sekedar membantu keseharian saya; dari hanya membantu untuk menemani adik2nya bermain hingga sekedar berbelanja roti di toko roti di lingkungan pemukiman kami. Putra kedua saya pun tak henti hentinya membuat saya terkesima. Sepertinya baru beberapa saat yang lalu ia rela saya gendong mondar mandir rumah- perpustakaan untuk menemani saya mencari literatur thesis; kini bahkan ia telah mampu mengendarai sepeda roda dua yang ia kayuh dengan kedua kakinya dengan lihainya, ia bahkan mampu menjadi sekedar badut kecil untuk memancing tawa dan senyum adiknya. Demikian pula yang saya alami dalam mengamati putri saya terkecil; sept yang lalu ia baru saja dilahirkan dan di bulan mei tahun ini bahkan ia telah mampu berdiri dan berjalan sambil berpegangan di sisi sisi dinding rumah kami sambil tertawa gembira..Ah..betapa saya telah menjadi tua..
Ya betapa waktu amat berjalan dengan cepat. Karenanya memang kebenaran yang amat absolut bila Tuhan selalu mengingatkan kita manusia yang naïf agar bijak menggunakan waktunya; karena hari kemarin tak akan pernah terulang dan saat ini tak akan tiba kembali di masa datang. Maka tak heranlah bila masing masing jiwa akan dimintakan pertanggung jawaban atas investasi waktu yang telah ia pergunakan, karena memang waktu amatlah berharga dan tak ada manusia yang mengetahui lamanya waktu yang ia dapat pergunakan di dunia.
Semoga Tuhan selalu membimbing saya untuk makin bijaksana menggunakan anugrah waktu dariNya serta memberikan kesadaran bagi saya untuk makin menyadari bahwa hidup saya di dunia hanya tinggal hitungan waktu yang tak akan pernah saya ketahui berapa lamanya..
*)My Page





