Pentingnya Perencanaan
Saturday, May 08, 2004
Rencana adalah keharusan
Yang akan membuat segala hal menjadi lebih terarah
Rencana adalah anugrah
Yang akan membuat manusia makin bijak dalam melakukan langkah
Dinihari adalah waktu paling tepat bagi saya untuk berpikir, merenung dan kembali merangkai apa yang sudah dilakukan di hari hari yang telah saya lalui. Karenanya satu hal yang hobby saya lakukan di kala terbangun di malam hari adalah kembali merenung dan berintropeksi diri atas segala hal yang telah saya lakukan selama ini, termasuk di dalamnya adalah strategi mendidik anak dan memanage pekerjaan rumah tangga yang telah saya jalani secara rutin.
Siapa bilang dua bidang tersebut adalah hal yang mudah untuk dijalankan. Tidak sama sama sekali, paling tidak menurut pendapat saya pribadi. Dalam mendidik anak, kita tak hanya butuh strategi, namun juga termasuk tahap perencanaan dan evaluasi. Tanpa hal tersebut, jangan diharapkan akan berhasil keinginan dan upaya yang telah kita lakukan. Pertanyaan seperi: telah tepatkah apa yang telah dilakukan selama ini? manakah yang dapat dipertahankan ataupun yang tak perlu lagi untuk dilakukan? hal yang manakah yang harus diperbaiki dan dikoreksi? program pendidikan macam apa yang perlu diperbaharui dan ditambah? dan pertanyaan pertanyaan sejenis lainnya harus selalu mendampingi selama kita dalam proses mendidik anak. Dan memang, itu bukan hal yang mudah. Walaupun telah berbagai macam rupa buku pendidikan anak telah saya baca dan renungi, namun tetap saja mau tak mau kami harus membuat teori pendidikan a la kami sendiri , karena memang keadaan tiap keluarga dan sifat anak adalah khas, dan tips dan triks a la buku pendidikan anak tidak mampu diaplikasikan langsung tanpa penambahan atau pengurangan "bumbu" di dalamnya.
Demikian halnya juga dalam mengurus rumah tangga. Bila rumah tangga memang banyak didukung oleh pihak lain, mungkin akan lebih banyak investasi waktu yang lebih leluasa di atur. Namun bagi yang meng-handle pekerjaan rumah tangga hanya berdua dengan suami, maka itu ..-kembali- ilmu perencanaan. Bila tidak, maka jangan banyak berharap bila kerjaan rumah dapat diselesaikan dengan sempurna, karena bekerja tanpa perencanaan dan taktik--paling tidak bagi saya pribadi--malah akan membuat hasil yang ditargetkan tidak akan pernah di capai dan bahkan malah membuat stress diri sendiri.
Ah ya..satu kata juga tidak perlu di agung agungkan setelah berumah tangga: perfeksionismus!..karena hal itu hanya akan menyusahkan diri dan kadang membuat kita tak mampu menempatkan skala prioritas dengan lebih objektif.
Karenanya evaluasi rutin adalah hal yang "harus", tak hanya dilakukan oleh para istri juga para suami dan hal itu harus selalu mewarnai kehidupan rumah tangga, paling tidak rumah tangga kami.
Siapa bilang dua bidang tersebut adalah hal yang mudah untuk dijalankan. Tidak sama sama sekali, paling tidak menurut pendapat saya pribadi. Dalam mendidik anak, kita tak hanya butuh strategi, namun juga termasuk tahap perencanaan dan evaluasi. Tanpa hal tersebut, jangan diharapkan akan berhasil keinginan dan upaya yang telah kita lakukan. Pertanyaan seperi: telah tepatkah apa yang telah dilakukan selama ini? manakah yang dapat dipertahankan ataupun yang tak perlu lagi untuk dilakukan? hal yang manakah yang harus diperbaiki dan dikoreksi? program pendidikan macam apa yang perlu diperbaharui dan ditambah? dan pertanyaan pertanyaan sejenis lainnya harus selalu mendampingi selama kita dalam proses mendidik anak. Dan memang, itu bukan hal yang mudah. Walaupun telah berbagai macam rupa buku pendidikan anak telah saya baca dan renungi, namun tetap saja mau tak mau kami harus membuat teori pendidikan a la kami sendiri , karena memang keadaan tiap keluarga dan sifat anak adalah khas, dan tips dan triks a la buku pendidikan anak tidak mampu diaplikasikan langsung tanpa penambahan atau pengurangan "bumbu" di dalamnya.
Demikian halnya juga dalam mengurus rumah tangga. Bila rumah tangga memang banyak didukung oleh pihak lain, mungkin akan lebih banyak investasi waktu yang lebih leluasa di atur. Namun bagi yang meng-handle pekerjaan rumah tangga hanya berdua dengan suami, maka itu ..-kembali- ilmu perencanaan. Bila tidak, maka jangan banyak berharap bila kerjaan rumah dapat diselesaikan dengan sempurna, karena bekerja tanpa perencanaan dan taktik--paling tidak bagi saya pribadi--malah akan membuat hasil yang ditargetkan tidak akan pernah di capai dan bahkan malah membuat stress diri sendiri.
Ah ya..satu kata juga tidak perlu di agung agungkan setelah berumah tangga: perfeksionismus!..karena hal itu hanya akan menyusahkan diri dan kadang membuat kita tak mampu menempatkan skala prioritas dengan lebih objektif.
Karenanya evaluasi rutin adalah hal yang "harus", tak hanya dilakukan oleh para istri juga para suami dan hal itu harus selalu mewarnai kehidupan rumah tangga, paling tidak rumah tangga kami.
*)My Page





