Happy Muttertag Mami!: Satu Telaahan Sesaat
Monday, May 10, 2004
Menjadi ibu mungkin hal yang mudah,
Berperan menjadi ibu bukanlah hal yang mudah.
Datang dari sekolah, putra saya segera mengucapkan Happy Muttertag Mami! Danke fuer alles. Terharu dan Speechless saya mendengar perkataan kedatangannya di muka pintu rumah kami. Walaupun saya merasa setiap hari adalah hari ibu buat saya, namun kata katanya yang tulus di saat itu membuat saya trenyuh dan menerawang berpikir...sudah pantaskah ia mengucapkan terimakasih atas segalanya pada saya? layakkah saya menerima ucapan tulus terimakasih darinya? sudahkah saya menjalani peran sebagai ibu dengan baik dan sesuai dengan harapannya sebagai seorang anak? .. sejuta pertanyaan lainnya bermunculan di benak kepala...sejuta kejadian terasa flash back kehadirannya di mata..
Bicara tentang "menjadi ibu", ingat sekali bahwa saya punya seribu kekhawatiran, seribu pertanyaan dan seribu bayangan ketika kabar gembira baru pertama kali kami terima. sujud syukur menghiasi keseharian kami di hari itu. rasa syukur yang tak terperi dan tak tergambarkan, di rahim ini ada makhluk suci buah cinta kami berdua. Masa indah itu saya nikmati walau diselingi dengan hipermesis yang tak terkira di sepanjang hari..namun..hati ini dipenuhi bunga kegembiraan setiap kali memandang foto usg yang menghiasi cover buku kuliah saya.
Seiring dengan makin membesarnya buah cinta kami, seiring itu pula kekhawatiran melanda di hati dan diperkuat dengan permainan hormon yang katanya membuat wanita lebih sentimentil dalam menjalani masa ini. terlebih saat itu saya baru kedua kali tinggal berjauhan dengan keluarga dan ditambah saya tidak pernah punya pengalaman--juga dibaca: ketertarikan-- dalam proses pengasuhan anak kecil semasa lajang. seribu pertanyaan selalu menggelayut di pikiran.. dapatkah saya menjalani peran sebagai ibu? bagaimanakah rasanya menjadi ibu? apakah yang harus dilakukan oleh seorang ibu? dapatkah saya bosan dengan peran saya sebagai ibu? atau dapatkah saya bisa menjadi ibu yang baik dan dibanggakan oleh anak2 saya serta memenuhi harapan2nya? jutaan rentetan pertanyaan sejenis lainnya selalu mengisi keseharian saya hingga pun di hari H...
Dengan menelusuri perjalanan hidup, seiring dengan belajarnya saya menjadi ibu, akhirnya saya dapat menjawab seribu pertanyaan yang dulu selalu berkecamuk di pikiran. Menjadi ibu adalah suatu proses. Proses yang selalu berjalan dan tak akan pernah berhenti. Proses berjalan dimana kita selalu belajar untuk semakin baik dengan adanya kesalahan kesalahan yang kita lakukan. Tak ada status ibu yang sempurna di dunia, karena kita pun hanya manusia yang sayangnya terjadi dari segala bentukan kelebihan dan kekurangan yang ada. Maka ketika kekurangan itu muncul dalam pola keseharian kita dalam berinteraksi dengan anak, bukanlah satu hal yang memalukan bila kita meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan
..tut mir leid mein Sohn, Ich habe etwas falsch gesagt..hab' etwas falsch gemacht. Willst du mir verzeihen?..
Satu hal yang juga saya catat di hati saya dalam menjalani proses ini, menjadi ibu berarti saya harus lebih banyak belajar dan menelaah arti satu kata kunci ..kesabaran. Dan itu bukanlah hal yang mudah! (Yes..that's why i'm still learning and learning..).
Bicara tentang "menjadi ibu", ingat sekali bahwa saya punya seribu kekhawatiran, seribu pertanyaan dan seribu bayangan ketika kabar gembira baru pertama kali kami terima. sujud syukur menghiasi keseharian kami di hari itu. rasa syukur yang tak terperi dan tak tergambarkan, di rahim ini ada makhluk suci buah cinta kami berdua. Masa indah itu saya nikmati walau diselingi dengan hipermesis yang tak terkira di sepanjang hari..namun..hati ini dipenuhi bunga kegembiraan setiap kali memandang foto usg yang menghiasi cover buku kuliah saya.
Seiring dengan makin membesarnya buah cinta kami, seiring itu pula kekhawatiran melanda di hati dan diperkuat dengan permainan hormon yang katanya membuat wanita lebih sentimentil dalam menjalani masa ini. terlebih saat itu saya baru kedua kali tinggal berjauhan dengan keluarga dan ditambah saya tidak pernah punya pengalaman--juga dibaca: ketertarikan-- dalam proses pengasuhan anak kecil semasa lajang. seribu pertanyaan selalu menggelayut di pikiran.. dapatkah saya menjalani peran sebagai ibu? bagaimanakah rasanya menjadi ibu? apakah yang harus dilakukan oleh seorang ibu? dapatkah saya bosan dengan peran saya sebagai ibu? atau dapatkah saya bisa menjadi ibu yang baik dan dibanggakan oleh anak2 saya serta memenuhi harapan2nya? jutaan rentetan pertanyaan sejenis lainnya selalu mengisi keseharian saya hingga pun di hari H...
Dengan menelusuri perjalanan hidup, seiring dengan belajarnya saya menjadi ibu, akhirnya saya dapat menjawab seribu pertanyaan yang dulu selalu berkecamuk di pikiran. Menjadi ibu adalah suatu proses. Proses yang selalu berjalan dan tak akan pernah berhenti. Proses berjalan dimana kita selalu belajar untuk semakin baik dengan adanya kesalahan kesalahan yang kita lakukan. Tak ada status ibu yang sempurna di dunia, karena kita pun hanya manusia yang sayangnya terjadi dari segala bentukan kelebihan dan kekurangan yang ada. Maka ketika kekurangan itu muncul dalam pola keseharian kita dalam berinteraksi dengan anak, bukanlah satu hal yang memalukan bila kita meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan
..tut mir leid mein Sohn, Ich habe etwas falsch gesagt..hab' etwas falsch gemacht. Willst du mir verzeihen?..
Satu hal yang juga saya catat di hati saya dalam menjalani proses ini, menjadi ibu berarti saya harus lebih banyak belajar dan menelaah arti satu kata kunci ..kesabaran. Dan itu bukanlah hal yang mudah! (Yes..that's why i'm still learning and learning..).
*)My Page





