<$BlogRSDUrl$>
*)My Page

Bila Diri Lupa

Saturday, May 08, 2004

Lupa amatlah manusiawi, kerap kali manusia alami,
Lupa memang tak akan pernah tak terjadi,
Kan selalu menghampiri selama manusia masih ada di alam ini.


Lupa adalah hal yang manusiawi, itu kata orang. Namun hal yang sekiranya dianggap manusiawi itupun sebenarnya menyimpan selipan nilai kebijaksanaan dan serangkaian hal yang akan meningkatkan EQ yang ada di diri manusia, paling tidak hal itu berlaku buat saya. Proses ini baru saja saya alami. Dalam salah satu rutinitas (baca: hobby)mingguan sebagai manager rumah tangga, berbelanja adalah satu aktivitas suci bagi saya. Di saat itu saya benar benar dituntut untuk menggunakan segala teori2 perencanaan, baik dari proses awal perencaanaan menu masak mingguan, perencanaan jenis bahan yang diperlukan, strategi perencaan jarak yang akan ditempuh hingga per"packing"an barang dan pengolahan menjadi barang siap makan.

Alhasil alur proses2 tersebut telah berhasil saya jalankan, dan tibalah saya di proses perjalanan pulang dari Norma. Satu kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak kecil di kegiatan suci belanja ini, saya selalu berusaha membandingkan apa yang saya telah rencanakan untuk di beli dan apa yang telah dibeli. Proses itu saya lakukan biasanya di perjalanan pulang dengan tujuan melatih ketrampilan otak. Entah mengapa proses yang biasanya disiplin dilakukan hingga artikel barang terakhir, tiba tiba terputus begitu saja ketika saya melihat satu episode yang ada di depan mata saya, pasangan suami istri asli jerman dengan 2 putra dan 1 putrinya yang baru saja meninggalkan masa remaja mereka. Bagi orang lain, mungkin hal itu sama sekali tidak menarik, tapi tidak bagi saya!. Mereka berjalan berdampingan dengan anjing kecil yang mereka tuntun sambil berceloteh gembira. Anak2 mereka saling bergantian mencium mama dan papanya. Sejenak saya sempat terpukau melihat pemandangan tersebut, ah betapa pemandangan itu sudah jarang sekali saya temui di alam eropa ini. Betapa nilai seorang anak tergantikan begitu saja dengan suatu hal yang sebenarnya tidak lebih berharga dari turunnya bidadari kecil ke muka bumi. Angan angan pun membumbung tinggi dan membuat pikiran menerawang, .. dapatkah episode itu menjadi salah satu bagian hidup yang nantinya akan kami jalani?.. ah..bila anak anak sudah besar nanti, apa yang akan mereka lakukan..mungkinkah kami dapat mengantarkan mereka ke pintu gerbang kebahagiaan lahir dan bathin nya? .....dan sejuta bila berbaris di pikiran saya, hingga akhirnya pikiran saya kembali menuju bumi dan saya terhentak sadar bahwa proses penghitungan barang belum saya selesaikan. Sambil berusaha mengingat kembali, tak sengaja terlintas satu kata di pikiran saya..ah..pampers!. Saya lupa membawanya, padahal saya sudah membeli dan payahnya persediaan di rumah sudah amat kritis. Sayangnya baru sadar ketika saya sudah menapak setengah jalan menuju rumah kami, tepatnya di halaman Burgschule yang begitu dekatnya dari rumah. Di detik itu saya berhenti dan berdiam diri di hadapkan pada beberapa kombinasi pilihan yang dapat terjadi:

1. marah dan mengomel, lalu pulang ke rumah sambil memendam kekesalan hati,resiko: anak2 dan suami bisa jadi terkena "akibat" letupan emosi,

2. marah dan kesal lalu kembali ke toko dengan berharap barang akan kembali sambil sekaligus menumpahkan segala emosi,resiko: penjual bisa naik banding dan jadi tontonan gratis pengunjung toko,

3. sabar dan berdoa bila itu masih rezeki pasti akan diberikan kembali dan bila tidak, semoga orang yang mendapatkannya dapat memanfaatkan barang tsb secara baik serta ia diberikan kesadaran dari Dia bahwa mengambil barang miik orang lain adalah tindakan yang tidak bermanfaat bagi dirinya, resiko: melatih EQ diri dan bila berhasil, hati akan menjadi tenang

Yang termudah tentu bila option 1 atau 2 saya ambil, dan tak ambil pusing apa kata yang ada di sekitar saya. Yang paling susah tentu menjalani pilihan ke tiga. Suatu pergumulan terjadi di benak saya dan hal itu mengakibatkan pula "perang batin" di diri, manakah yang harus saya ambil serta pilihan yang mana akan membawa manfaat bagi saya ?. Salah satu semboyan hidup yang hingga kini saya junjung tinggi adalah hari ini saya harus lebih baik dari kemarin, dan besok saya harus lebih baik dari hari ini. Kelihatan klise dan idealis, namun itulah harapan harapan saya dalam menjalani hidup sebagai manusia yang ingin selalu menjadi lebih baik. Akhirnya dengan berat hati saya putuskan untuk mengambil pilihan ke tiga dengan beberapa resiko yang ada:

- letih - diartikan bahwa saya harus menempuh 1.5 perjalanan berikutnya dan ini tentu menguras tenaga.
- menata emosi - diartikan bahwa saya harus sebisa mungkin menahan keinginan "mengomel" yang pasti bolak balik melintas di kepala.

Sambil bergumam di dalam hati dengan segala harapan yang terdapat di piliah ke 3, akhirnya toh saya ditakdirkan untuk mengikhlashkan barang yang ternyata belum jadi rezeki bagi saya. Ya mungkin benar..mungkin ada orang lain yang memerlukannya, mungkin orang tersebut hanya hidup dari uang sosial minumum yang ia terima. Mungkin orang tersebut telah berniat mencari saya namun tidak berhasil. Mungkin..Mungkin..Mungkin..Kembali seribu kemungkinan bernilai positif muncul menghibur di pikiran saya. Menghibur angan angan bahwa musibah yang saya terima bisa jadi membawa manfaat bagi orang lain. Dan dengan adanya hiburan hiburan itu, membawa diri saya untuk mendoakan orang tersebut agar ia pun nantinya diberikan kelapangan berpikir, kesadaran dalam bertindak dan memutuskan di lain waktu, bahwa mengambil barang yang bukan haknya adalah tindakan yang tidak membawa kebaikan di hati sanubari.

...tapi toh ternyata hati saya lebih lapang dan pikiran saya lebih tenang. Sayapun makin menyadari kealpaan dan kekurangan saya sembari berdoa dan berharap agar hal ini tidak kembali terjadi di masa datang. Dari kejadian ini, saya kembali dapat mengambil pelajaran berarti, bahwa

1. sabar dan doa akan selalu membawa kebaikan bagi siapapun yang mengambilnya sebagai alternatif walaupun kebaikan ini mungkin baru disadari di kemudian hari,


2. akan menentramkan hati apabila semuanya kita kembalikan padaNya, karena hanya Dia Yang Maha Tahu kebaikan yang tepat bagi kita, walaupun kadang kebaikan itu kita rasakan sebagai pil pahit yang tidak ingin kita terima
.


Lupa memang manusiawi, dan di sana tersimpan harta karun kebijaksanaan yang tak bertepi, paling tidak buat diri saya sendiri!